senja itu

18:50


Siang menuju senja
Matahari mulai turun
Beberapa orang sibuk berlalu lalang
Di pelataran parkir sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta
Keringat mengalir pada pelipisnya
sesekali
Dia membetulkan letak kacamatanya
Sambil tidak melepaskan pandangan dariku 

“mata mu bagus!”

Entah itu pujian yg datang tulus dari hatinya atau rayuan gombal
Aku bergeming

“Gombal!”

Aku memaki, namun ada senyum yg tak mungkin dapat dilihat oleh dia

Hmm...terima kasih

“yee...seriusan malah dibilang gombal, gimana sih!”

Dia tersenyum, manis.
Dengan cepat menyulut rokok yang sedari tadi bermain di jari-jarinya
dengan pemantik kesayangannya,
menghisap dalam-dalam dan menghembuskan asap rokoknya

“jangan nangis lagi, mata kamu terlalu indah buat disesaki air mata”

katanya serius
Matanya yang berwarna coklat pias bertemu dengan mataku
Matanya bicara banyak.
Namun, ia enggan membaginya dengan orang lain, termasuk aku.
Dibatasinya aku dengan sebaris senyum.
Tipis. Setipis tadi. Sayang, tak semanis tadi.

Mungkin ini bisa disebut astral.
Aku seolah dilempar ke tepi pintu dunianya.
Meraba-raba, apa yang tengah ia pikirkan.
Menebak adakah yang hendak dia ucapkan

Aku membeku

Apa sosok ku juga indah di hati mu...?

Kami berdua terdiam
Larut dalam perjalanan pikiran masing-masing
Mungkin, besok,
bisa aku mulai dengan ‘selamat pagi’.
Atau, ‘hai ketemu lagi’.
Setiap hari, selalu kuniatkan itu.
Tapi, sampai hari ini, tak sepatah kata pun keluar dari bibirku,
Aku memilih menatapnya saja.
Mengajaknya bicara dalam diam.

‘Sometimes, king and queen cannot “sit” together in the real world. But, still you have that place in my heart.’ 

Hari itu, aku menjadi ratu tanpa takhta dan mahkota di hatinya.

That was the last time; 
we kissed to each other.

You Might Also Like

0 comments