Rendevouz (percakapan malam dengan sahabat)

06:23

Saya tertegun.
Pandangan saya menembus gelas berisi strawberry punch yang berdiri menantang dihadapan saya yang sama sekali belum terjamah. Minuman yang sangat tidak cocok di cuaca sedingin ini.

Dia pun diam. Sesekali asyik memutar-mutar sendoknya. Mengaduk kopi hitam pekat dalam cangkir yang telah habis setengahnya, berharap mendapat pencerahan dari dalam kopinya.

Mata coklatnya yang pias bertemu mata ku. Lalu dengan suara renyahnya yang seperti biasa, dia mampu mencairkan kebekuan sesaat ini. “I miss you…” Kami tertawa bersama.

Pertama kali. Setelah melewati 3 tahun yang menjemukan, yang sempat menyesatkan kami dalam belantara nama dan rupa. Dan kini lewat sebuah pertemuan tak terencana yang direncanakan tuhan, kami duduk bersama berdua melintasi stigma waktu yang sanggup mengubah luka menjadi pualam dan membekukan air mata menjadi kristal garam.

Selalu ada senja yang panjang untuk sepotong percakapan.

Segala sesuatu telah berubah dalam 3 tahun ini Kami pun mempunyai persepsi berbeda dan tak mungkin menzinahi ideologi kami masing-masing Suatu keyakinan yang kami percayai meretas dari tekanan dua orang yang berani menjadi gila.

Lantas kami mulai menertawai dunia karena menemukan kenyataan bahwa gravitasi belum tirus bautnya tetapi dunia sudah mulai jungkir balik.

Percakapan kami mengembara kembali Menghadap horison tempat matahari terbenam Mengulang kisah, membangkitkan serpihan kenangan Ketika jiwa muda kami menjunjung tinggi kenaifan.

Kau tahu?
Kami pernah mencari tuhan, Bersama melewati proses pencerahan. Mencari tuhan dalam tumpukan buku keagamaan Yang bernilai lima belas ribu rupiah. Lantas dapatkah kami menemukan tuhan dengan hanya membayar sebesar lima belas ribu? Tidak, It’s priceless…

Kami pun pernah mencermati hidup Berpikir betapa kami sering kali mengkonsumsi apa yang sebenarnya tidak kami butuhkan Menyerap sesuatu yang nantinya perlahan ditolak tubuh Dan kemudian mengalirkannya pelan dari pori-pori jiwa.

Lantas berpikir mengapa kami diciptakan? Dan untuk apa kami diciptakan? Sebuah pertanyaan filosofis yang sebenarnya tak perlu pemikiran keras untuk memutar otak mencari jawabnya tetapi justru hanya mempersilahkan waktu untuk membuktikan.

Kami begitu muak dengan pakem hidup yang sederhana Lahir, hidup sambil pamrih pada tuhan, lalu mati. Tanpa melakukan hal untuk diri sendiri.

Pernah kami tidak dapat menahan efek emosionil Yang tidak sempat tertangkap kelopak mata karena terjebak labirin poliamori Mencaci maki dan menistakan pelaku poliamori Tanpa sadar bahwa kami adalah salah satu lakon didalamnya. Disana pun kami bertemu iblis yang menangis tersedu seperti anak kecil Berharap untuk dicintai, edan!!

Kami saling mencintai. Dan itu sempat membuat sekitar kami Mempertanyakan keotentikan gender kami. Mereka membuat persepsi salah, Karena kami sepasang perempuan yang saling mencintai dan menyayangi.

Jangan salah! Bukan berarti kami memproklamirkan diri menjadi bagian dari salah satu komunitas kaum lesbian tidak, tidak seperti itu…Cinta kami tulus Seperti cinta guru kepada anak didiknya, kakak pada adiknya, orang tua pada anaknya dan tuhan pada umatnya. Bukan cinta nafsu yang melegalkan kata pasangan sejenis.

Jangan kuatir kami masih normal. Kami masih menyukai lelaki dan mempunyai nafsu untuk memacu adrenalin bersenggama dengan lelaki hingga berpeluh dalam sunyinya malam walaupun itu hanya lewat sebuah sentuhan.

Kami bersama-sama mencari apa yang terdapat dari sebuah kebenaran dan lantas tercenung karena mendapati bahwa tidak ada yang otentik dari sebuah kebenaran karena kebenaran itu sendiri adalah sebuah kebenaran tanpa mengurangi nilai di dalamnya.

Dan pada akhirnya kami tidak mau sia-sia membatang arang seperti sisa api yang hendak padam. Kami juga tidak mau menyita waktu susuri langit hingga ke tepi karena kami tahu langit tak bertepi.

langit semakin menebal. kami melangkah pasti menuju parkiran PIM...kami enggan untuk berpisah karena euphoria telah menjadi momok yang membebani kami bahkan ketika nanti akhirnya kami kembali berpisah...
menuju hidup kami yang sebenarnya dan menanam dalam ingatan kami akan masa gejolak muda dan kemunafikan kami dulu...
akhirnya kami telah sampai di bagian yang paling sangat tidak diinginkan.
ucapan perpisahan,
selamat malam...semoga hari esok akan jauh lebih baik lagi...

You Might Also Like

0 comments