Aubrey (part 1 )

20:38

Seberkas sinar menyilaukan menusuk pupil mataku, membuatku mengerjap perlahan.sinar emas matahari mencelat menerobos kisi jendela, menerabas helaian gorden dipantulkan debu dan menjatuhkan sinarnya sebagian tubuh yang terkulai lemah di atas tempat tidur.

pagi.

another day to live, thanks god.

setiap pagi, kerjapan mata yang sama, kilauan emas sinar yang sama dan tabungan tekanan dalam hati yang sama akan beban yang mengendap berhari-hari. perempuan itu bergerak malas, meregangkan tubuh menghirup oksigen lebih banyak karena takut tersandung kantuk yang luar biasa seperti biasa. menyeret langkah perlahan menuju dapur, meraih mug kecil berwarna putih, membuka kitchen set dan berkutat mencari sebungkus kopi krim instan yang dibelinya semalam bersama kebutuhan lainnya di mini market dekat apartemennya. aroma kopi krim instan yang menyatu dengan air panas meruyak idera penciumannya. dia mulai menyesap menikmati secangkir kopi krim instannya. langkahnya beringsut menuju ruang tengah apartemen.



dia meraba tas tangannya yang tergeletak di samping TV dan menemukan kotak rokoknya. Diambilnya satu rokok menthol dan disulut. Sejurus kemudian lingkaran tipis asap rokok mengepul keluar dari mulutnya. tubuh kurusnya bergerak menuju tempat favoritnya; jendela. pandangannya tertumbuk ke luar jendela, ada kenikmatan lain yang ditawarkan Jakarta pagi hari; kesibukkan.jauh di bawah sana Jakarta pagi mulai berdenyut. dibukanya jendela dirasakannya angin meniup wajahnya, dia memandang langit yang berubah membiru, mengernyit.



kepalanya mulai berdenyut, nyeri. dia melirik botol-botol obat yang tergeletak di samping tempat tidurnya,  menyesap kembali kopinya dan menyeringai sinis.

percuma!

Dokter membereskan medical record miliknya, menatap ke arah print out CT-scan. melirik sebentar ke arahnya menghela nafas panjang dan mulai membuka suara...

(to be continued)

You Might Also Like

1 comments