Rumah

17:56


Saat saya menulis tulisan ini, sedang diputar No Place Like Home milik Kenny G feat Babyface. Sambil duduk diteras depan, melihat langit yang terhalang pohon mangga. Di depan ada gerombolan anak kecil yang asyik bermain kejar-kejaran. Burung gereja yang hinggap bergoyang di kabel listrik dan tukang makanan yang lalu lalang.

Jika  melihat di pojokan garasi, kau akan temukan Ucil; kucing hitam saya dengan garis putih dari leher sampai ke perut yang sedang terlelap. Di meja teras depan sudah ada ‘sesajen’ : laptop, secangkir teh lemon hangat dengan kantung teh yang masih nyantel dicampur gula batu yang dibiarkan melarut dengan sendirinya, rokok sebungkus dan semangkuk mie ayam yang dibelikan ayah saya.

Sederhana ya?

Disaat semua orang menghabiskan senja dengan memilih coffeeshop ternama bersama teman temannya dan memilih menu makanan dalam bahasa londo, saya justru lebih memilih berkencan sederhana dengan langit senja di teras depan rumah, mendengarkan angin yang singgah untuk minum teh bersama sambil membawa cerita dari benua seberang dan tertawa lalu menuliskannya kembali.

Alunan saksofon Kenny G dalam no place like home menghipnotis, rasanya nyaman sekali, senyaman saya duduk di kursi depan, ya, senyaman di rumah orang tua saya. Tidak ada tempat senyaman rumah saya:-milik orang tua saya.

Tapi tentunya suatu hari nanti saya harus pergi melangkah keluar dari rumah ini, suatu hari nanti saya harus mandiri bukan? Lalu pikiran itu datang, apakah nantinya akan ada teras yang senyaman teras rumah orang tua saya ini? Kamar senyaman kamar saya dan dapur yang nyaman yang selalu bangkitkan keinginan untuk menyulap dedaunan menjadi sayur yang lezat dan tepung terigu menjadi cupcake yang menggugah selera.

Jika saya punya rumah nanti, saya tidak mau rumah yang besar. saya ingin rumah mungil dengan halaman. tidak perlu luas yang penting hijau dengan rumput. Ada teras belakang dengan sepetak halaman yang rimbun dengan bunga yang saya tanam, kolam ikan dan air mancur yang mengalir, tempat saya menyapa pagi dan bercengkrama dengan senja.

Rumah saya nanti akan sederhana dicat warna putih, dengan kusen jendela dan pintu berwarna cokelat tua. Dinding depan rumah akan tumbuh tanaman merambat yang hijau dan segar. Hanya akan ada dua kamar di dalam rumah dan ada satu ‘dinding cerita’ dimana akan ada banyak foto hitam putih perjalanan hidup saya yang menempel yang letaknya tepat di ruang santai tempat menonton tv.

Ah, tampaknya akan ada perjalanan panjang untuk memiliki rumah impian seperti yang saya inginkan. Mari sejenak berdoa semoga harapan saya mempunyai rumah sederhana dengan teras belakang yang rimbun jadi kenyataan. Amen.

(December 2010)

You Might Also Like

0 comments