Pulang

19:32

Pagi ini aku sempatkan membekukan waktu, bercerita tentangmu yang hanya dapat kutangkap lewat layar handphone tua dan jejaring sosial berjudul twitter. Sambil mengais biskuit dari stoples kaca.

Sedang bagaimana suasana hatimu?
Riang seperti remahan matahari yang sedang bermain ayunan atau meredup seperti serat-serat cahaya yang mengembun pada daun?

Terakhir kau bilang hatimu terikat rasa nyeri yg menjalar karena kehilangan, susah memang jika merekatkan sesuatu yang retak, butuh waktu dan doa.

Mungkin pijakan dimensi kita berbeda tapi yakinlah, aku pernah berada di tempatmu terdiam sekarang. Menyesali diri karena hanya aku yg menjadi seksi dokumenter, mengumpulkan sejumlah potret yang terekam dalam proyektor otak kemudian menekan tombol delete, berharap seluruh gambar akan hilang namun yg kutemukan hanya racauan gila yang kesepian.

Ingat detak terus berjalan dan kita dipaksa harus berlari cepat, jangan merunduk apalagi mundur. Terlalu banyak yang kau endap tanpa sempat terucapkan, terlalu lama berdiri di tempat yg sama. Bukan tuhan yang memengamini tapi kau sendiri yang memasung kakimu.

Kau lelah berlari?
Kau lelah mencari jalan pulang yang menyerupai labirin?

Untuk itulah tuhan membuat aku dan kamu bersinggungan, karena setiap kehadiran sesorang dalam hidup dimaksudkan untuk memberikanmu sesuatu yg berharga.

Aku datang, Mari ikut denganku, kita bertelanjang kaki, berjingkat melewati hangat matahri, menari dengan hujan, memberi makan bintang bintang kecil dan melepas kawanan meteor yang kita sulap menjadi kembang api.

Dan rasa sakitmu akan menyublim lalu menguap menjadi bintik hujan yg jatuh ke laut.

Setiap senja akan aku ajak menuju pantai pasir putih dimana kau bisa membangun istana dam mimpi yg terlambat kau bangun.

Dan kau akan merasa kau benar-benar pulang..


Note: untuk seorang teman yang sedang fluktuatif hatinya :)

You Might Also Like

1 comments

  1. like this :)

    Hm, tulisanmu mengingatkanku akan sebuah episode perjalanan ku...
    sulit memang, tapi terkadang kita memang harus memaksa untuk berlari, buka memasung " rasa hati " yang hanya membuat kian sesak.

    ReplyDelete