Auld Lang syne (Part 1)

02:49




“Dan pada akhirnya kita hanya kumpulan sejarah yang tidak akan pernah masuk dalam buku pelajaran apapun untuk diingat.”

Semburat langit merayap pelan mengubah warnanya menjadi gradasi abu menjingga. Lampu lampu jalan masih tegak menyiram kuning jalan yang basah sisa hujan semalam. Ada jejak mengeras dan membekas di setiap inci aspal hitam yang kulewati, mereka bercerita tiap detiknya tentang lalu lalang kendaraan dan langkah langkah yang tergesa menuju suatu tempat atau seseorang. Aku menatap lekat kilasan kilasan di balik kaca jendela mobil, sudah lama gradasi warna langit pagi yang hampir serupa dengan langit senja ini menarik perhatianku dan terlalu lama aku tidak bangun sepagi ini untuk menikmatinya.

Abu abu menjingga, warna yang tersaji dalam layar kaca mobilku menerbangkan ingatanku pada dirimu, padahal aku sudah hampir melupakanmu, atau lebih tepatnya paling tidak aku berusaha melupakanmu. 3 tahun belakangan ini kita tidak pernah bertemu, jangankan bertemu, mendengar suaramu melalui jaringan selular pun tak akan pernah aku lakukan semenjak kamu tidak pernah menjawab telepon dariku dan akhirnya nomermu sama sekali tidak bisa dihubungi hingga sekarang. Tahukah seberapa besar aku membencimu? Sangat besar. Hingga Tuhan pun bingung bagaimana caranya mempertemukan kita dalam pertemuan yang tak terencana, Tuhan boleh sedikit linglung hinggap alpa membuat  kamu dan aku untuk bertemu sekali saja memperbaiki sesuatu yang telah remuk dan hancur, namun egoku berdiri tegak menentang sekalipun wajahmu kerap mondar mandir memenuhi lalu lintas jalan pikiranku.

Sudah pasti kecewa mengambil porsi terbesar dalam andil kemarahanku ketika kamu pergi tiba-tiba tanpa. Tidak ada nota kecil seperti yang biasa kamu tinggalkan untukku saat pagi  meninggalkan ku yang tertidur telanjang di kamar.

Dan ya, aku merindukan setiap catatan kecil yang sering kamu tulis utukku, kadang kamu meletakkannya disembarang tempat yang menyebabkanku penasaran untuk mencarinya. Setiap catatan kecilmu kusimpan rapi dalam kotak berwarna cokelat di dalam lemariku. Ada ratusan catatan kecil didalamnya dan hampir 3 tahun ini aku tak pernah lagi berusaha membuaka kotak tersebut. Jika aku membukanya itu sama saja bunuh diri tenggelam dalam lautan kenangan bersamamu.

Tapi pagi itu tidak ada satu catatan pun untukku, entah apa yang ada dipikiranmu. Mungkin kau lupa atau entahlah dan itu membuatku hancur. Aku telah mencari dan mencari di setiap sudut rumah; kucari di laci lemari pakaianku, tidak juga ada di dalam toples cemilanku ataupun terselip di sepatuku sebagaimana kamu meletakkannya dahulu, sampai aku lelah dan menyerah.

Aku takut akan kata ‘sejarah’ yang menjadi kata pada kalimat terakhir di buku yang dituliskan Tuhan tentang kamu dan aku ketika amu menghilang entah kemana dan aku menyibukkan diri menumbuk diriku dengan kenyamanan dalam bentuk rutinitas yang sedari mula kupikir itu membosankan untuk kemudian melupakanmu. Dan pada akhirnya kita hanya kumpulan sejarah yang tidak akan pernah masuk dalam buku pelajaran apapun untuk diingat.

Sekarang, disaat aku berpikir bahwa aku telah betul betul melupakanmu dan merasa berhasil menghapusmu dari ingatanku untuk kemudian memulai hidup baru dengan perempuan bermata coklat justru kamu muncul tiba tiba di depan gerbang kayu rumahku.

Maaf aku tak membukakan pintu untukmu, aku malah membiarkanmu diluar bersama hujan. Aku sengaja. Karena aku membencimu. Tapi ternyata kehadiranmu tidak berhenti di situ saja, di dalam doaku pun Tuhan menjentikkan jemarinya menggambar wajahmu dalam pikiranku bahkan kamu pun ada berenang bersama Banjo ikan mas koki ku di dalam kotak akuarium saat aku member makan Banjo. Entah bagaimana caranya kamu bisa ada di dasar mangkuk mie rebusku dan tersenyum, aku benci keadaan dimana kamu terus membayangiku.

Langit semakin memudar, gradasi abu jingga berubah menjadi biru yang pelan dengan serat awan menggantung. Biru, warna kesukaanmu kan? Ah sial! Lagi lagi terlalu banyak hal yang memaksaku untuk ingat kepadamu. Ternyata aku masih hafal betul kesukaanmu bahkan lekuk tubuhmu. Dan karena terdapat banyak hal seperti itulah yang kuanggap sebagai firasat, kemudian aku menggerakkan langkah untuk menemuimu

Boleh jujur? Aku benci ada di tempat ini. Ini membuatku sakit, ya, sakit karena kehilanganmu dan aku tampaknya masih belum rela atau bahkan tak pernah rela. Aku melangkah keluar mobil, berjalan melewati taman dan membetulkan letak kacamata hitamku.

Aku bergegas lari memasuki pintu rumah sakit, menerabas beberapa orang yang menatapku kebingungan. Aku tidak perduli, aku hanya perduli keadaannya saat ini. Ku tekan tombol lift berulang kali tapi tetap tak ada satupun lift yang bergegas menjemputku menuju lantai 5. Habis sudah kesadaranku hingga aku meluapkan emosi menendang pintu lift, seorang pasien dan suster menatapku yang penuh amarah dengan ketakutan. Seseorang menghentikan aksiku menekan tombol lift berulang ulang lalu menunjuk ke arah kananku yang tertulis: Tangga / Stairs. Setelah mengucap terima kasih, aku beergegas lari menaiki anak tangga menuju lantai 5 tempatmu terbaring menghitung sisa sisa helaian nafasmu yang makin melemah.

Ada hawa dingin sehabis hujan tadi subuh yang mendekapku dan wangi tanah basah sisa bersenggama dengan hujan. Langkahku terhenti, kutarik nafas dalam dalam untuk melepaskan dadaku dari hantaman rasa kehilangan yang mengakar. Aku bersamamu, disini tepat dihadapanmu. Tampaknya mereka menjaga rumahmu dengan baik.

Aku mendekat memandangi dirinya yang ditempatkan pada ruangan isolasi, aku hanya bisa menggapainya sebatas ruang disampingnya yang diberi sekat kaca. Dia melepaskan masker oksigen, tersenyum dan melambai ke arahku. Aku menempelkan tanganku pada kaca, mendekatkan wajah dan mulai menangis.

Maafkan aku, aku berbohong ketika semalam aku berteriak aku tidak merindukanmu. Ada efek emosionil yang tidak lagi dapat tertangkap kelopak mata. Aku rindu, aku membawakan sebuket bunga mawar putih kesukaanmu. Disini, didepan nisanmu aku membuat pola salib pada kening, dada kiri dan dada kananku lalu berdoa semoga Tuhan menjagamu. Dulu terlalu banyak perbedaan diantara kita. Mungkin hanya rasa sayang dan cinta yang membuat kita bertahan dalam ketiadaan. Mereka bilang Tuhan itu satu tapi cara kita saja yang berbeda dalam mengimani-Nya

Perempuan itu masih terbaring di atas tempat tidurnya di rumah sakit dengan mukena berwarna putih yang dibawakan ibunya, suster berdiri disampingnya menjaga dan memperhatikan mesin mesin yang tersambung ke badannya untuk mengetahui detak jantungnya, bibirnya tak henti henti melantunkan doa dan harapan. Sementara lelaki ini berlutut di altar, bibirnya terus memuji Tuhan dan berdoa. Semoga perbedaan menyatukan mereka dan semoga ada jalan untuk menyatukan mereka.

Kelopak bunga kamboja jatuh terserak tepat di pembaringan terakhirmu yang ditumbuhi rumput hijau rapih dan malaikat malaikat kecil berlarian ke langit menyampaikan doaku ke pintu surga, tempatmu bersembunyi menatapku sekarang

“untuk perempuanku tersayang, tetaplah menulis catatan kecil tentang kehidupanmu bersama tuhan...leburkanlah ceritamu bersama hujan, agar aku tetap dapat membaca dan mengerti keadaanmu. tidurlah dalam damai, dalam lantunan doa doa yang dialamatkan kepadamu, aku merindukanmu. terima kasih, semalam kau mengunjungiku dan memelukku dalam tidurku, aku masih merindukanmu dan akan tetap merindukanmu.”


Aku meletakkan bunga untukmu dan mencium nisanmu sebelum akhirnya melangkah pergi menjalani kehidupan tanpanmu dan menunggu saatnya tiba Tuhan menjemputku pulang untuk kembali bersamamu menulis tentang kita di surga.

You Might Also Like

2 comments

  1. ah,harus!

    aku masih mampu membayanginya.

    ReplyDelete
  2. dia yang tiga tahun tidak bertemu denganmu itu kemana ?

    ReplyDelete