2 hari 1 malam (menuju senja)

00:42

segelas jus jambu dan senyum 

Tuhan punya segenggam rencana untuk mempertemukan kita, bermula dari segelas air mineral dingin dan Virgin Kahlua di pojok kedai kopi di bilangan Progo Bandung. Entah magnet apa yang menarikku masuk ke dalamnya dan mengirimmu pesan singkat :
‘Mari bertemu’
Di siang dimana matahari terlelap terselimuti awan kelabu dan gerimis yang menunggu untuk menggemericik, kita menggelar dialog yang ringan. Membicarakan apa saja diantara kepulan asap nikotin dan peluh es yang mengembun pada gelas kaca. Kau bilang pernah menungguku hingga kantuk kau lawan dan kesepian kau akrabi namun aku tak kunjung datang memberi kabar. lalu sebaris kata maaf ku tuliskan di jejaring sosial yang kau baca namun tak mau kau balas. Maaf.
Pernah pula di seperempat malam ketika tuhan duduk dipinggir langit sambil memainkan lagu alam dan kadar alkohol mengambil alih kemudi otakku yang semerta mengirim sinyal ke jemariku untuk mengetik sebuah pesan singkat dan Tuhan dengan sedikit campur tangannya yang menjetikkan namamu di display layar handphoneku, kau pun menjawab dengan gamang. Saat itu mataku dipenuhi air, aku lelah menguras hatiku yang banjir air mata. kau bilang jika saat itu kau ada di kota yang sama denganku, kau akan menemuiku dan membantuku menguras air asin yang sudah tidak terbendung di kelopak mataku. tapi kau tak datang, kau jauh. terlalu jauh.
hutang sudah terlunasi semua. pertemuan di sabtu siang saat adzan menggema di kubah langit biru sudah cukup mengobati pertemuan yang 2 kali tergagalkan keadaan.
2 hari 1 malam, banyak yang kita perbincangkan. terlalu banyak hingga kita muntah tawa dan kata yang merubah atmosfer pekat menjadi gradasi jingga berkilau. saat itu pun hujan. kau tidak tertidur saat aku sudah terlelap mengatupkan kelopak mataku bukan? yang aku ingat, kamu memelukku, tersenyum dan berkata “gue ga bisa tidur, kenapa ya?”. aku tidak tahu jawabannya, yang ada hanya kita berpelukan sepanjang malam dengan pikiran yang berkelana entah kemana.
Ketika matahari tengah menggeser posisi tempatnya berdiam, kita duduk berhadapan dengan hening. lalu scene itu terjadi -scene yang sangat kuhindari, sejujurnya-  seperti rol film yang terputar jelas dan berhenti sejenak di adegan perpisahan yang menguras emosi penontonnya saat kamu meminta diri untuk berpamitan: “gue mesti pulang, lo gappa sendirian?”

entah apa yang menyebabkan sesuatu tidak beres terjadi di hati tempatku merasa, tetiba peparuku sesak dan rasa takut ditinggalkan menyeruak. boleh aku jawab sejujurnya mau kubekukan waktu biar kau ada didepanku terus duduk menikmati jus jambu yang kau pesan yang menjadi penyebab utama rasa melilit di perutmu. apapun akan kulakukan untuk menyaksikan mu bercerita dan tertawa.
tapi waktu tidak pernah berpihak pada salah satu yang merindu. aku hanya bisa titip air mata (lagi) ketika dirimu harus beranjak pergi. jaga baik-baik hatimu jangan jatuhkan disembarang tempat, suatu hari nanti aku akan meminta hatimu.

Ngopi dulu, Bandung

You Might Also Like

2 comments

  1. "tapi waktu tidak pernah berpihak pada salah satu yang merindu. aku hanya bisa titip air mata (lagi) ketika dirimu harus beranjak pergi. jaga baik-baik hatimu jangan jatuhkan disembarang tempat, suatu hari nanti aku akan meminta hatimu."

    two thumbs.......
    if the sands of time can be stopped.

    ReplyDelete
  2. Aku suka tulisanmu ini nona <3333

    ReplyDelete