Hujan bulan Juli

00:01


Seperempat jiwaku terbang menuju kotamu, melebur bersama hujan di bulan Juli yang menitik di pipi, mata dan helai rambutmu. Mengirimkan pesan rindu. Setiap detikku merayap di kertas menuliskan barisan kata penghantar pagi, siang dan malam, pesan untukmu yang tak pernah kukirimkan.
Sekali kita dipertemukan dalam keterasingan yang melelahkan, lalu kau berceloteh tentang waktu yang beranjak dewasa dan keinginanmu untuk bebas. Jarak kita hanya sejengkal, dipersatukan ciuman. Tanpa rasa. Lalu sedih itu merambat di dada, perih, karena rasa itu tumbuh perlahan.
Lampu kamar menyiram kuning kau dan aku yang terbaring berhadapan, kumulai jemariku menelusuri pias coklat matamu, lalu merah hangat pipimu dan gairah yang bersemayam di bibirmu. Aku hanya memastikan rasa itu ada. Kau tahu, semalam aku patahkan sayapku untuk tetap bersamamu mencari rasa di binar matamu dan kubiarkan diriku melata di bumi demi mu.
Kau tak pernah memandang mataku, entah kau takut aku membaca rasa atau kau tak mau membuatku sedih karena tak ada rasa yang menyubit hatimu. Kau hanya memberiku punggung telanjangmu yang dingin dan pelukan serta kecup di bibir. Apa rasa itu merayap perlahan atau tak pernah ada? 
Kamar berukuran 4x3 yg disiram cahaya kuning lampu jalan dari luar jendela meninggalkan percakapan dengan peluh dan nafas yg tersengal
Kau liat apa? 
Aku lihat malaikat, hey Kemana sayapmu? 
Aku patahkan semalam  
untuk apa? Kau tak mau pulang lg ke negeri Hujan?
Tidak, aku mau cari Rasa 
tak bisakah kau tak patahkan sayapmu saat kau mencari Rasa? 
Aku takut sayapku akan menyulitkanku. sebelum bertemu Rasa itu, sayapku akan membawaku terbang kembali.
lalu kau patahkan? perempuan gila!
Aku gila, tapi kau suka kan? 
sudah tidur saja, pakai bajumu. jangan meracau lagi, kau mabuk 
Ya, aku mabuk. Mabuk karena hanya sebatas bayanganmu saja kau dapat kunikmati tidak hatimu. Mabuk dengan perih yang menjalar. Jarak kita hanya sejengkal, tubuh kita berdekap, bibir kita berpagut, tapi entah dimana hati kita mungkin hilang terbawa hujan di senja.
Isyarat hatiku tak terbaca mata hatimu. Aku benci makan malam yang kau ganti dengan menu pil pahit yang terbuat dari serat hatimu yang dingin. Hasil percakapan malam itu: dua punggung yang saling berhadapan, dingin. Mungkin tidak sekarang. Mungkin esok atau lusa.
Mungkin tidak sekarang, mungkin esok atau lusa ketika kau terjaga dari lelapmu kau akan mengingat namaku sebagai perempuan yg kau rindui. Dan biarkan aku bercinta dengan sisa tenaga yang ada sampai akhirnya tertidur dalam pelukan Hujan. Setidaknya aku cukup bahagia.
Perlu 20 kali utk meyakinkan diriku bahwa apa yang akan kukatakan ini akan membuat sesakku (setidaknya) sedikit berkurang. Tapi kini konsekuensinya adalah aku kehilanganmu, tidak ada lagi hujan di bulan Juli, semua terhenti. Aku rindu Juli di bulan Juli. 

terinspirasi dari karya
Sapardi Djoko Darmono
Hujan Bulan Juni

You Might Also Like

2 comments