Saya dan Bipolar Disorder.

11:41




pertama kalinya saya menulis sambil menarik nafas panjang dan mengumpulkan keberanian. keberanian untuk jujur, ini bukan perkara mudah bagi saya tetapi keinginan di hati mendorong saya untuk menceritakan apa yang telah terjadi dengan diri saya selama ini. postingan kali ini bisa dibilang adalah titik balik kehidupan saya dimana (mungkin) saya akan menerima berbagai persepsi dari banyak orang orang yang mengenal saya dan sering mengunjungi tempat saya menulis ini. 

Saya adalah seorang penderita Bipolar Disorder. Mungkin sebagian dari kalian belum paham betul apa itu Bipolar disorder atau mungkin bahkan sebagian kalian menganggap penderita bipolar adalah orang gila. Jika boleh mengutip apa yang dikatakan Vindy Ariella bahwa kebanyakan orang menganggap rendah orang yang mengalami gangguan jiwa, baik itu penderita depresi, bipolar, gangguan panik dan cemas dll. Mereka juga bertanya-tanya kenapa ada hal seperti itu didunia ini dan mereka penasaran bagaimana rasanya. mereka mencoba mencari jawaban yang tepat, tapi semakin mereka mencari maka mereka semakin kebingungan karena mereka tidak pernag merasakan dan mengalami bagaimana menjadi seorang penderita kejiwaan. Pada akhirnya mereka membandingkan penderita gangguan jiwa dengan diri mereka yang normal sampai menarik sebuah kesimpulan bahwa orang yang menderita gangguan jiwa tidak kuat ditimpa masalah, tidak berpegang pada agaman, rapuh dan stigma negatis lainnya.

Saya seorang perempuan berumur 27 yang akan menginjak usia 28 pada 2014 ini. Sejak kecil saya mengalami fase kehidupan yang bisa dikatakan berbeda dengan orang kebanyakan. Ayah dan ibu saya sangat keras dalam mendidik, ini adalah cara mereka dalam mendidik anak anak mereka. Tidak ada perlakuan khusus antara saya dengan kakak-kaka saya --semua mendapat perlakuan yang sama-- hal tersebut dilakukan ayah dan ibu saya untuk membentuk anak-anaknya menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab.

Hanya saja kepada sayalah justru reaksi yang mereka dapatkan berbeda. Didikan ibu dan ayah yang keras membuat saya depresi, padahal usia saya saat itu masih sangat belia; 6 tahun. Saya boleh berbangga karena saya adalah salah satu anak yang cerdas di sekolah, saya sudah lancar membaca saat saya berusia 4 tahun dan percaya atau tidak saya mempertanyakan konsistensi Tuhan ketika saya berumur 6 tahun dengan bertanya: "Tuhan itu seperti apa? bagaimana rupanya?" "Tuhan ada dimana?" "darimana kita tahu bahwa Tuhan ada?" dan selalu berada di posisi 2 besar di kelas. Semua kecerdasan ini saya peroleh karena ayah selalu disiplin untuk mengajarkan saya tentang ilmu pengetahuan ketika selesai makan malam hingga dunia dalam berita malam menjadi tanda sudah saatnya saya berhenti belajar dan pergi tidur. 

Tingkat depresi saya makin bertambah, di sekolah saya jadi jarang bergaul dan selalu merasa terkucilkan. Ketika SMP pun saya tumbuh jadi anak yang pendiam, saat SMA saya mengalami hal yang sangat menyakitkan yaitu dibully dan bertambahlah depresi saya, saya enggan ke sekolah dan menjadi anti sosial. baru ketika kuliah, saya membuka diri dan mencoba kegiatan seperti ikut aktif di majalah kampus serta band. Tapi tidak dapat dipungkiri bahwa depresi itu kerap menghantui. Selain depresi saya juga mengalami gembira berlebihan, mudah tersinggung, gampang marah, seperti mendengar suara yang orang lain tidak bisa denger, sedih berlebihan dan gaya bicara yang sangat cepat sampai saya sendiri tidak mengerti apa yang saya bicarakan. Bahkan ketika saya merasa sedih atau marah atau depresi saya sering membenturkan tubuh atau kepala saya ke tembok.

Ketika memasuki dunia kerja, saya merasakan tingkat depresi dan emosi saya semakin diluar batas. Saya meraasa janggal dengan diri saya sendiri. saya jadi jarang tidur, tidak bisa konsen dengan pekerjaan dan boros dalam penggunaan uang. sampai suatu ketika saya ada di titik dimana saya sangat sendiri dan kesepian hingga saat itu berpikir untuk bunuh diri. Saya pun menjadi sosok yang penuh dengan ketakutan hingga menangis terus setiap hari, seperti benar benar kosong dan merasa tidak berarti. Saya juga semakin sering mengalami perubahan mood ekstrim dari ketawa tiba-tiba dalam hitungan menit saya menangis meraung-raung tanpa sebab. 

Karena tingkat depresi yang semakin meningkat, maka saya memilih untuk menghabiskan waktu dengan menulis di blog sebagai curahan hati walaupun hanya berupa puisi dan prosa. Tapi itu semua tidak bisa menutupi perasaan kesepian saya dan depresi serta berubahnya saya menjadi sangat temperamen. 

ketika saya menikah, saya mengalami perubahan mood swing yang semakin parah. Saya selalu mencari masalah untuk bertengkar dengan suami saya dan mulai mengintimidasi suami saya bahkan tidak jarang saya melempar barang ke arah tembok saking emosinya. Waktu itu suami saya menganggap saya hanya emosi dan depresi biasa saja. Sampai saya mulai bekerja di salah satu sekolah international dimana ada sesi interview dengan SpKJ (interview ini penting di sekolah tempat saya mengajar untuk memantau kejiwaan si teacher dalam mengajar anak muridnya) hasil testnya ada dugaan bahwa saya menderita Bipolar. 

Dari situ saya cari tahu via internet tentang bipolar dan terkejut lah saya bahwa apa yang selama ini (tingkat depresi dan temperamen) saya alami dari smp, sma, kuliah, kerja sampai menikah pun persis dengan definisi dan tanda tanda penderita Bipolar. Saat itu saya jujur dengan suami saya tentang hasil test dan menjelaskan apa itu bipolar, tapi suami saya tertawa dan berkata "ah masa ada penyakit seperti itu."

Saya hanya bisa diam. Dalam hati, saya yakin suami saya tidak menerima kenyaataan bahwa istrinya mengidap bipolar dan suami saya masih beranggapan bahwa bipolar itu penyakit orang gila. Setelah itu kami tidak pernah membahasnya lagi. Semakin hari keadaan emosi dan mood saya semakin parah dan saya pernah mencoba bunuh diri bahkan saya setiap saat selalu berbicara tentang kematian dan keinginan untuk mati ke suami saya, emosi pun tidak terkontrol pernah dalam keadaan depresi saya menyetir dengan kecepatan tinggi hingga mobil pun oleng, tetapi Tuhann masih menyelamatkan saya.

maka dari situ suami saya bergegas mencari tahu lebih lanjut tentang bipolar dan mulai menyadari bahwa istrinya seorang penderita bipolar yang membutuhkan bantuan. Tanpa ragu suami saya menyemangati saya untuk sembuh serta mencarikan saya komunitas bipolar untuk sharing bersama.

Teman saya yang seorang dokter juga ikut membantu saya mempertemukan dengan seorang psikolog di salah satu rumah sakit ternama di bilangan Kuningan, jakarta Selatan. Saya pun melakukan tes sekali lagi dengan hasil: positif menderita Bipolar Disorder. Jujur saja saya menolak pernyataan tersebut karena ketakutan membayangi. Saya takut ditinggalkan orang orang terdekat saya, saya takut menjadi gila. 

Tetapi semua itu berubah kita saya dijelaskan oleh psikolog bahwa penderita bipolar itu bukan orang gila melainkan penyakit suasana hati dimana perubahan mood terjadi sangat cepat dari ceria ke depresi akut yang bisa menyebabkan penurunan kualitas hidup (jarang gaul jadi penyendiri) dan lebih parahnyajika tidak ditangani akan berakibat suicide attempt atau percobaan bunuh diri. Penderita bipolar gampang marah, gampang bertengkar dan tidak jarang nantinya akan melakukan tindakan kekerasan kepada orang lain dan diri sendiri kalau tidak segera diatasi. 

dari situ suami saya terus tanpa henti mendampingi dan memberikan semangat kepada saya agar sembuh, baahkan suami saya pun berujar "sudah waktunya kamu jujur tentang keadaan kamu agar orang orang mengerti posisi kamu." Saya pun mulai jujur kepada orang terdekat termasuk keluarga saya dan keluarga suami saya. Alhamdulillah mereka semua merangkul saya dan ikut mendampingi saya untuk sembuh bahkan ibu mertua saya menyarankan saya untuk pindah ke Bandung agar saya bisa mendapatkan ketenangan selama masa recovery didampingi beliau. Ah, saya beruntung.

Bipolar yang saya alami disebabkan faktor genetik (ternyata ibu saya juga seorang penderita bipolar) dan trauma lingkungan keluarga atas didikan yang keras serta per-bully-an yang saya alami di masa SMA. Kompleks sekali, dulu saya selalu diamkan hingga hal ini menjadi bola salju yang kian membesar dan bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Sekarang saya masih melakukan terapi untuk bipolar disorder, saya beruntung karena suami, mertua, keluarga serta temen mendukung dan memberi support penuh kepada saya untuk sembuh. Saat ini yang saya lakukan adalah berdoa kepada Tuhan yang Maha Esa agar saya diberikan kekuatan dan kelapangan menghadapi semua dan diberi kesembuhan. Saya ingin sembuh sepenuhnya dan menjalani hidup senormal kalian. Jika boleh saya bersuara mewakili teman teman penderita bipolar maka saya hendak berkata:

"Teman, ketahuilah kami tidak sepenuhnya bersalah atas apa yang membuat jiwa kami terganggu, pun ini bukan keinginan kami untuk menderita gangguan jiwa. Mungkin bagi kalian sangat mudah untuk mengendalikan diri & mood jika kalian berpikir dari sisi kenormalan kalian. Tapi kami berbeda, bagi kami yang memiliki gangguan jiwa, hal itu sungguh sangat berat dan menyesakkan. Kami membutuhkan dukungan, pengertian dan pelukan dari kalian untuk meyakinkan diri kami bahwa kami tidak sendiri menghadapi ini semua. Kami ingin bangkit dari depresi dan merasakan indahnya dunia seperti kalian. Kami berjuang keras untuk sembuh, kami juga ingin seperti kalian yang normal. Tapi kami butuh proses. Semoga kalian bisa mengerti dan tolong jangan hakimi kami."


Saya sekarang tidak takut lagi untuk jujur: nama saya Naajmi dan saya seorang penderita Bipolar!


salam,

Naaj

You Might Also Like

98 comments

  1. Mbak Najmi hebat, mau mengakui kekurangan yang mbak miliki. Semoga semua proses terapi yang mbak lakukan berjalan lancar ya :) dan perubahan mood ekstrim yang sering mbak alami dapat berkurang dan sembuh :) Aamiiin

    kalau sempat, kunjungi juga blog saya mbak :) ceritaulya.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Hai zakiyah, terima kasih supportnya. Saya mengamini semua doa mu dan terima kasih atas doa nya. Tentu saya sudah mampir tadi ke rumah menulismu, sangat menyenangkan :D

    ReplyDelete
  3. Mba Naj, terharu bacanya. Kamu tegar banget menghadapi semua, aku penggemar tulisan2 mba, dulu mikirnya kenapa yah setiap tulisan mba kok gelap banget dan selalu sedih apa karena mba addict dengan kisah sedih atau luka yang menyakitkan tapi sekarang aku tau bahwa itu adalah bentuk curahan hati mba dalam menghadapi dan melewati bipolar. aku mau mba sembuh, yang kuat mba pasti mba sembuh. Mba berntung bgt dikelilingin sama org2 yang syg bgt ma mba dan menyemangati mba :)

    ReplyDelete
  4. Hai terima kaish atas atensinya, kurang lebih seperti itu saya menggunakan tulisan juga sebagai terapi. Terima kasih juga atas support mu yah.

    ReplyDelete
  5. Iya mbaaaaak :) tetap berkarya lewat tulisan-tulisan mbak yang super kece ya :D

    ReplyDelete
  6. mba, saya udah hampir 2 tahun bookmark blog mbak,
    ketika saya mulai mencium aroma petrichor di blog ini.

    saya suka sekali dengan bahasa yang mba naj gunakan.
    kalo lagi pengen nyari inspirasi saya berkunjung kesini.

    dulu saya cuman silent reader
    entah kenapa baca postingan yang satu ini,
    membuat saya tergerak untuk menyampaikan sesuatu.

    oh ya.
    saya suka cerita mba naj tentang Ayah,
    saya juga punya catatan tentang ayah
    dan perihal sahabat pena, ingin rasanya saya berkirim surat secara konvensional seperti itu :)

    semoga terapy nya lancar ya mba, dan lekas sembuh :)

    ReplyDelete
  7. @ Han Chaniago: Halo Han, apa kabar? bagaimana cuaca di padang saat ini? terima kasih karena sudah berani tersesat dan betah di dalam rumaah tulis saya ini :) Terima kasih juga untuk support serta keyakinan saya untuk sembuh, terima kasih.

    boleh, kalau tertarik ayo kita berkirim surat menceritakan kabar dan cuaca kota masing masing :)

    ReplyDelete
  8. kak naaj, tetep semangat! saya suka dengan tulisan-tulisanya.semangat terus mba, semuanya punya kurang kok, dan jangan lupa juga punya kelebihan. saya juga suka mood swing dari yang seneng trus diganggu sedikit lgsg marah sampe ga tahan nangis. jadi kurang lebih saya juga ngerasain hal yang sama mba. :"")
    beruntungnya kalau disamping ada orang yang bisa ngerti dan senantiasa ngedukung. disyukuri ya mba naaj *peluk*
    XOXO

    ReplyDelete
  9. walah, tau darimana saya orang padang mba?

    ReplyDelete
  10. @ Kirey: Hai there, thank you veerymuch for the support *hugs* :')

    @ Han: tau dari nama belakangnya, kalau ga salah Chaniago itu memang marga padang bukan? soalnya saudara saya menikah dengan pasangannya yang bernama belakang Chaniago juga dan orang Padang :D

    ReplyDelete
  11. @Tita: Hati saya tersentuh membaca cerita tentang adikmu :( once I've read about the story, i sent my pray to your brother semoga segala sesuatunya lekas membaik. Keluarga adalah komunitas terkecil dimana dapat membantu penyembuhan para penderita Bipolar, saya kagun dengan kamu yang berperan sebagai caregiver, terus dampingi adikmu yah dan ingatkan dia bahwa hidup sangat indah :)

    ReplyDelete
  12. Bagus mbak, ini reblog bukan ya? Soalnya, sekitar akhir tahun 2007 atau awal 2008 aku pernah baca ttg skizo yg dimuat di multiply, kalau gak salah. Sayang skrng multiply ku udah gak ada. Gambar topeng dan bahasannya pun persis.

    ReplyDelete
  13. @Tiara : oh ya? bukan, ini bukan reblog tapi ini memang saya sendiri yang mengalami:)

    gambar topeng ini banyak di google kalau kamu mau cari dengan kunci "bipolar disorder". Bahasan memang banyak banyak yg sejenis karena penderita bipolar di indonesia memang cukup banyak :)

    terima kasih sudah mampir membaca

    ReplyDelete
  14. Maaf ralat, bukan bahasan, tapi bahasa.
    ;)

    ReplyDelete
  15. @Tiara tidak apa apa. Mungkin karena banyak yang mengalami hal yang seperti saya alami oleh karena itu kamu merasa dejavu :)

    ReplyDelete
  16. halo mbak naajmi. saya gak sengaja nemu posting blog ini di saat sedang searching hal random. gak cuma posting-an ini aja sih, banyak postingan serupa yang saya baca. tetapi posting-an mbak yang menarik saya untuk berkomentar.

    sepertinya masalah mbak sedikit mirip dengan masalah saya. awalnya saya kira cuma trauma biasa karena dididik dengan keras. orang tua bilang cuma pakai kata-kata, tapi kadang main fisik juga. kata-kata juga kan bisa lebih sakit dari fisik juga :<

    masa-masa remaja saya dari SMP-SMA gak sebagus seperti remaja normal. sampai-sampai saya gak mau inget lagi. jarang bergaul, sering sendirian, gampang tersinggung, marah dsb. kadang ada yang berlawanan di dalam diri saya. kaget juga ada suara perintah yang jelek diluar kendali pikiran. pernah niat bunuh diri juga, pernah mencoba kabur dari rumah tanpa tujuan.

    saat ini saya sedang kuliah tingkat dua. saya rasa sedikit berkurang seperti tidak ingin bunuh diri lagi. saya malah mau berusaha mengejar cita-cita saya untuk mengkondisikan diri agar lebih baik lagi. tetapi, malah ada gejala lain. saya baca dari internet, bipolar disorder suka menghabiskan uang. saya akui iya. habis saya memiliki hobi yang berbeda dari orang-orang di sekitar saya. lagipula kalau saya beli barang-barang itu, entah kenapa rasanya sedikit tenang. waktu masih sekolah, saya cuma dikasih sedikit uang saku, jadi tidak bisa beli ini itu.

    meski saya seperti itu, sampai saat ini saya rasa belum ada yang mengerti keadaan saya termasuk orang tua sendiri. setiap kumat, gak ada satu pun temen yang menghibur saya. mereka bilang saya ini jutek, nakutin, apalah inilah. padahal saya sedang labil...rapuh...dan butuh kepedulian. lebih-lebih akhir-akhir ini saya sering gak diajak di acara-acara temen.

    saya jadi berpikiran buat periksa ke psikiater *bener kan?*
    di rumah sakit umum biasanya berapa ya?

    ReplyDelete
  17. @Kuran: Big hug for you Kuran, keep strugle :) saran saya leih baik diperiksakan ke psikiater, nah untuk rumah sakit umum saya agak kurang tau euy, kamu bisa langsung hubungi rumah sakit umum disekitar kamu Kuran :)

    ReplyDelete
  18. mirip sama cerita saya,
    saya (merasa) bipolar. mungkin asal diagnosa jg, tp kebetulan saya S1 Psikologi.
    masa kecil kita mirip, kalo Mbak mungkin disiplin, kalau saya, ibu saya stress berat (krn banyak hal), dan saya (dan adik) jd korban kdrt.
    beruntung setelah saya kuliah ibu saya agak membaik, sedang kdrt fisik sudah berhenti ketika saya masuk SMP.
    tapi rupanya, bipolar itu ngga semudah itu pergi ya. mempengaruhi seluruh hidup saya. teman saya sangat sedikit, kemampuan sosial saya rendah, meski akademik bagus.
    kisah Mbak menginspirasi. :)
    makasih karena menuliskannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Puteri, terima kasih telah berkunjung ke sini. AYo semangat, we are all special :D

      Delete
  19. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Nuzulul, tolong jangan lagi punya pikiran untuk mengakhiri hidup yah karena hidup kita sangat berharga. Saya juga sampai sekarang mengkonsumsi obat, tapi sudah mulai saya kurangi karena dari dalam diri saya muncul keinginan untuk sembuh. Mungkin pada intinya hal ini akan kembali pada niat kita :)

      Delete
  20. membaca tulisan ini seperti membaca diri sendiri.
    sudah, itu saja.

    ReplyDelete
  21. SAYA JUJUR MENANGIS MEMBACA catatan blog INI.....apa yg mba alami sama persis dengan apa yg kualami saat ini....aku g tau harus bagaimana...aku g tau knp aku seperti ini....malu emosi dan pikiran negatif yg selalu membayangiku....hanya kesunyian yg bisa membuat hariku jadi lebih tenang....tapi aku IKLAS ko....mungkin ini takdir TUHAN....aku hanya bisa TERDIAM dan terkadang MENANGIS sendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. don't drowned yourself in to sadness :(

      Delete
  22. Saya penderita bipolar jg, saya dika, baru semalam saya kambuh, saya mau tanya mbak, obat apa saja yg diberikan pd mbak? Saya masih 18thn ketika sma saya 3kali pindah sekolah, krn keadaan mood saya ini, sekarang saya kuliah dan sepertinya keadaan saya kambuh lg dan tdk ingin kuliah, sesama penderita, apakah sebaiknya ketika kambuh kita mencoba menahan sendiri tanpa minum obat? Karna obat yg diberikan dokter sangatlah keras saya takut mempengaruhi keadaan otak saya, terimakasih mbak. Semoga hidup kita bisa tenang :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Obat yang psikiater berikan kepada saya ada xanax dan lithium, hanya sekarang saya sendiri yang mengurangi dosis nya. Memang obat2an tersebut bisa mempengaruhi kita tapi hal yang paling penting adalah niat kita untuk sembuh :)

      Delete
  23. Gara2 sahabat saya berkata pikir 2x klo.mau menikah dgn seorang bipolar, maka saya mencari tahu utk meyakinkan saya bhw bipolar bkn.hrs dijauhi. Krn pacar saya dibawah pengawasan psikolog. Naaj..tetap semangat..kita sahabat. Saya selalu menyarankan pacar saya.hidup sehat, berpikir positif dan berolahraga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Naj...pakbre? Udah pernah coba food combaining?

      Delete
  24. aku juga terkena bipolar disorder, ketika saya dalam keadaan terpuruk alias merasa depresi berat, sy kalo depresi berat nangis sambil ngrusak barang, tp gak smpe dibikin video kayak marshanda, coba klo dibuat, wah tambah jelek, Ayah selalu marah2 jk saya "kumat", dan bilang akan menyeret saya ke jalanan, jika tidak bisa dibilangin, biar semua orang pada tahu, sampai saya yg sebesar ini (usia 25 th) digendong ayah utk menuju ke jalan, tp karena badan sy yg gemuk mk tdk jadi, ibu sy menangis dan ayah saya menangis, kadang adek sy cowok menyekap sy smpe biar diam smbil baca2 komat2 doa asma Allah gtu deh,
    sy merasa bersalah tp tdk bs mengendalikan emosi,

    ReplyDelete
    Replies
    1. kamu sudah coba konsultasi dengan psikiater?

      Delete
  25. Mbak Naajmi, saya Tita, maaf mbak karna anonim saya tida bs menghapus komentar terkahir tentang cerita saya, bisa tolong dihapus mbak? Alhamdulillah adik saya sudah lebih stabil. Bipolar atau tidak, kita sama-sama punya kesempatan hidup normal. Saya sayang adik saya dan berusaha untuk selalu support. Terimakasih mbak naajmi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sudah dihapus Tita, salam untuk adikmu yah :)

      Delete
  26. hai mba apa yang mba alami juga sama seperti yang saya alami, saya sering kali sulit mengontrol emosi saya, sehingga saya sering memecahkan apa saja yang ada didepan saya dan tak jarang saya mencoba melukai diri saya bahkan mencoba untuk bunuh diri. mba beruntung msih ada keluarga mba yang mau mendukung. saya sendiri tidak berani mengungkapkan kepada orang-orang terdekat atas apa yang saya alami. saya pernah mencoba untuk menceritakan penyakit ini ke pacar saya yang saya anggap orang yg saya percaya. tapi malah dia seakan tak peduli. saya berjuang sendirian, sampai akhirnya saya mencoba berani membuka diri. awalnya saya orang yang anti sosial, lebih senang menyendiri. tapi justru motivasi untuk sembuh datang dari diri saya sendiri sehingga saya mencoba untuk mulai berteman dan memberanikan diri berkomunikasi dengan orang-orang disekitar saya. dari situ saya merasa cukup terbantu, saya mencoba melakukan hal-hal positive, berfikiran positive dan menjalin hubungan dengan banyak orang. saat ini saya sudah merasa baikan walaupun terkadang saya masih belum bisa mengontrol emosi dan mood saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. nooooo..your not alone, saya teman kamu dan kamu tidak sendirian :)

      Delete
  27. hai mbak, saya prempuan 19 tahun. saya mhsiswi psiklogi. stelah mnjdi mhasiswi di psikologi sya tdak hnya bljar, skalian rawat jalan. hehe. saya meduga berpotensi mengidap bipolar. Karna ibu saya bipolar, bahkan mnurut saya cukup parah. sya jd teringat dulu slagi sya msh sekolah d sd, smp, dan sma. emosi sya gmpang meledak. bahkan saya prnah memukul beberapa temen cowok saya. dan itu membuat sya trlihat sngar. saya jg prnah marah luar biasa. saat sedih pun saya prnah menangis selama 8 jam non-stop, hnya karna pacar saya membuka profil sosial media mantannya. Namun, lama kelamaan saya mulai berpikir. saya hrus berubah, ini nggak boleh dibiarin. sya brusaha meregulasi diri saya dngan baik. dgn ilmu yg sya dpat, sya mencoba menerapkannya. memang sih, kondisi kluarga saya sgt tdk mndukung. sya anak broken home, dgn riwayat ibu sudah 3x kawin, dan ayah 2x kawin. d smping itu hubngan antar kluarga juga tdk terlalu baik. bahkan dlu wktu sd sya smpat kabur dr rumah. Tapi sudah setahun terakhir saya mrasakan prubahan. Bhkan org dekat saya jg mengatakan hal yang sama. saya mrasa lbh baik. Hanya saja, potensi itu tdk akan prnah hilang. emosi sya memang msh meledak2 d kepala saya ktika mndngar suatu hal. Namun sbisa mungkin saya meredam dan mengalihkannya, agar tidak bereaksi berlebihan. Tapi saya msh sering mngalami migrain, yg sya prnah baca jg slah satu ciri bipolar. pntes saja dlu sya prnah k dokter saraf wktu SMA, dia bilang "kamu jangan terlalu stres atau memikirkan masalah. hidup d bawa satai aja, just relax. migrain ga dateng lagi kalo kamu bgtu. atur emosimu." dan itu bru ngerti skarang. dlu cuman iya iya aja pas d bilangan dokternya. hehe

    ah rasanya bhgia, trnyata org yg bipolar itu nggak seburuk yang d bayangkan. tp istimewa. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbak gina, jadi waktu kamu ke dokter saraf dilakukan pemeriksaan apa saja?

      Delete
  28. Hai mbak Naajmi, terimakasih banyak atas artikelnya... Saya terharu sekali membaca ini. Saya pernah mengalami periode depresi mbak, tahun 2011. Lumayan lama, hampir 1 tahun. Selama itu, hampir setiap hari saya menangis, di kamar, di rumah bahkan di kendaraan umum saat perjalanan pergi dan pulang dari kantor. Tiba2 air mata keluar begitu saja. Rasanya sakit sekali dan sangat melelahkan. Saya menjadi pemurung dan menarik diri dari lingkungan. Seluruh memori pengalaman buruk tergali dan muncul dengan sangat jelas hingga seakan menindih dada, menjadikannya sesak. Ingin menggapai2 mencari pertolongan tapi tak terlihat uluran tangan. Teman saya juga sedikit. Sering saya merasa tidak berguna dan tidak berharga, serta salah dimengerti oleh org disekitar saya. Pikiran untuk kabur dari rumah selalu muncul, krn suasana di rumah juga tidak damai, org tua sering berkonflik sejak saya kecil, dan saya pernah memiliki trauma yg terjadi sejak saya kecil. Alhamdulillah, saya tidak pernah memiliki keinginan bunuh diri. Tahun berikutnya saya berusaha bangkit, walaupun rasanya sulit sekali. Tapi saya terus berdoa dan saya sangat yakin Allah akan menolong saya, krn Dia lah sebaik2nya penolong. Kini, saya sudah menikah dan suami saya sgt support saya. Mungkin saya bukan penderita BD, atau saya punya kecenderungan kesana sejak kecil (saya tidak tahu krn saya blm pernah menemui psikiater). Saya merasa kondisi saya sudah jauh lebih baik sekarang, walau terkadang kondisi itu terasa seakan kambuh lagi jika ada pemicunya. Semoga teman2 dgn BD selalu semangat, percayalah bhw hidup kita berharga, kita tidak pernah sendirian, ada keluarga, teman atau minimal ada Allah yg menyayangi kita. Hidup ini indah, kawan ��

    ReplyDelete
  29. mbak saya sepertinya pengidap bipolar,kemana saya harus terapi
    karena apa yang mbak alami sangat mirip dengan apa yang saya alami

    ReplyDelete
  30. mba naj...maaf sbelumnya,saya ga pandai brkata2 mba.mungkin kata2 saya ini akan bnyak,dibaca atau tidak terserahlah.saya hnya ingin crita disini karna mrasa diri saya aneh.
    saya sering skali mnyakiti diri sndiri, benturkan kepala ditembok,mukul2 dada dan kepala jika saya mrasa dongkol/sakit hati/ada sesuatu yg tidak cocok dg hati saya,itu trjadi sjak saya SD smpai skrg usia saya 24th.
    saya penderita asma turunan sejak balita smpai skarang saya sakit2an,ktika pnyakit saya kambuh parah,pikiran negatif slalu dtng,saya ingin mnyakiti diri saya sndiri (pukul dada,kepala) dan bunuh diri,sampai dulu sya prnah punya carter pribadi tuk sewaktu2 saya ingin bnuh diri,dn sampai skarang saya msi brpikir bunuh diri apa yg enak,langsung mati tanpa darah dn tanpa bnyak alat yg harus disiapkan.sejak kecil sya gmpang skali sakit,lg musim sakit apa dilingkungan saya,saya pasti sakit dn akhirnya pasti mnyerang asma.jd sya brpikir dg overdosis bisa tuk bunh diri,karna kebetulan saya sring konsumsi obat.ktika saya ada masalah2 kecil dg pcar saya...saya uda kpikiran tuk bunuhdiri dn bnuhdiri.dan oh iya,ktika saya nyetir naik motor sndiri,trkadang sering ada pikiran tuk menabrakkan diri ke kendaraan lain.
    kata pacar dn sahabat saya,itu smua bisikan setan itu dtng, ktika bisikan itu datang sya mengingat Allah.Tuk agama sndiri,saya di didik dr kluarga bragama,didikan ortu saya keras ttg disiplin,mandiri,dan tanggungjwb.ayah saya dulu hnya galak sm sya (anak prtamanya),kalo sya susah makan,mulut sya dijejeli makanan smpe saya mau nelan smbil dipukuli beliau smpai brdarah,dr yg pake tangan smpai sandal jepit.stiap kali pristiwa itu sya langsung menyendiri didalam kamar,duduk pojok depan kaca bicara sendiri,dan mnyakiti diri sya sndiri.dn lagi2 brpikir tuk bnuh diri.dan itu lama saya lakukan smpe akhirnya saya lelah sndiri.
    yah begitulah,knapa sya ini?sya tidak bragama atau apa?tapi beribadah setaat mungkin sudah sya lakukan.saya hampir gila atau apa?saya ga brani ke dokter jiwa,psikolog,atau apalah itu,saya hnya mnganggap itu bisikan setan,dn sya hrs brperang dg diri saya sndiri tuk mlawan itu smua.
    tah apa ini yg saya tulis,mba naaj mngerti atau tidak,sya sndiri tidak mngerti,tangan saya mngalir gtu ngetik isi hati sya tah itu terarah atau enggak.
    sbelumnya trimakasih bnyak mba naaj...
    salam kenal.
    Efit (ini blog pacar sya)

    ReplyDelete
  31. Mbak, boleh minta no kontaknya. Jika berkenan

    ReplyDelete
  32. excellent story of someone :')

    ReplyDelete
  33. Aq sangat sependapat dengan isi blog ini dan semakin lengkap referensiku tentang apa itu bipolar, karena aq termasuk bagian dari bipolar ketika mencapai mania, seringkali ide-ide ku tuliskan di www.inspirasi-idebisnis.com menurutku bipolar ada kemiripan dengan orang yg berkepribadian indigo dan introvert.

    ReplyDelete
  34. Mbak, saya terenyuh sekali mendengar postingan mbak yang sangat tulus ini. Sejujurnya saya sempat mendiagnosa diri saya sendiri sbg pengidap bipolar krn saya mencari2 artikel litelatur2 yang membahas ttg BD. Dan setelah membaca2 tanda2 trs sangat sama dgn saya. Spt halnya ada mania dan satu lg saya lupa. Saya srg merasa senang berlebihan dan ketika jatuh saya benar2 terpuruk. Utk masalah jam tdr, saya bisa 2 bahkan 3 hari berturut2 tdk tidur dan kalau tidur suka dgn wkt yg sangat lama. Di keseharian saya mmg org yg pendiam, saya tdk byk bergaul dgn org2 sktar.

    Yah mungkin ini curhatan saya. Sbnrnya saya ingin periksa namun saya tdk ada keberanian.
    Terimakasih mba :)

    ReplyDelete
  35. Mbak, saya terenyuh sekali mendengar postingan mbak yang sangat tulus ini. Sejujurnya saya sempat mendiagnosa diri saya sendiri sbg pengidap bipolar krn saya mencari2 artikel litelatur2 yang membahas ttg BD. Dan setelah membaca2 tanda2 trs sangat sama dgn saya. Spt halnya ada mania dan satu lg saya lupa. Saya srg merasa senang berlebihan dan ketika jatuh saya benar2 terpuruk. Utk masalah jam tdr, saya bisa 2 bahkan 3 hari berturut2 tdk tidur dan kalau tidur suka dgn wkt yg sangat lama. Di keseharian saya mmg org yg pendiam, saya tdk byk bergaul dgn org2 sktar.

    Yah mungkin ini curhatan saya. Sbnrnya saya ingin periksa namun saya tdk ada keberanian.
    Terimakasih mba :)

    ReplyDelete
  36. Sedih banget baca blog ini dan ngerasa trharu banget baca komentar komentarnya. Jdi ngerasa ga sendirian didunia ini. Kalau lagi kumat cuma bisa nangis sama marah marah ga jelas :(, tapi ttp semangat buat kita semua :)

    ReplyDelete
  37. Sepertinya aku mengalami hal yang sama dengan mbak, namun mungkin mbak tau penyebabnya seperti itu, namun saya menderita bipolar juga, cirinya persis banget seperti itu. Namun saya tidak mengerti, mengapa saya bisa menderita seperti itu, dan kenapa?

    ReplyDelete
  38. Mbk beruntung sekali msh punya suami yg sabar mendampingi, suami saya lebih memilih buat menyerah dan menceraikan saya.

    ReplyDelete
  39. mbak kalau boleh tahu komunitas bipolar mana yang mbak tahu?

    ReplyDelete
  40. Mirip dengan cerita hidupku....
    Bahkan waktu kumat q pernah memarahi atasan lo mba...:d untung aja ga d pecat...

    ReplyDelete
  41. hi mbak, saya jg merasa bipolar disorder, hari ini waktu googling ttg bipolar sy nemuin blognya mbak,jujur waktu baca postingan mbak 90% seperti ngaca sendiri
    keluarga dan teman ngga ada yg tau, utk ke psikiater / dktr pun jujur masih ngga berani, berhubung usia sudah 25 tahun ini saya juga kadang berpikir utk beranikan diri terapi, takut kalau sudah berumah tangga dan pny anak nasib anaknya gmn kl saya masih sering kumat :( boleh tau utk terapi bipolar itu brp lama ya mbak biasanya? skrg mbak naaj masih terapi / sudah sembuh?

    ReplyDelete
  42. hai mbak naaj, kalau kita mau test bipolar di Indonesia khususnya Jkt ada dimana ya mbak? punya suggestion? thanks in advance :)

    ReplyDelete
  43. Salam kenal mbak Naaj...proud of you.

    ReplyDelete
  44. maaf mau tanya, sy jg merasa diri mengalami bipolar, saya ingin konsultasi ke psikolog atau SpKJ, apa ada rekomendasi psikolog atau SpKJ yang bagus di Bandung? terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa dicoba ke klinik jiwa di jalan riau dekat bip kalau tidak salah namanya klinik jiwa grha atma

      Delete
  45. Mba najmi.. sy boleh tau terapi apa yg mba dapatkan utk penanganan bipolar nya.. bpleh digambarkan ngga gimana sih terapinya.. sy perlu banget informasinya, yg sy baca selama ini cm teori. Trimakasih

    ReplyDelete
  46. Mbak, saya pengen nanya2 tentang BD ini. Mohon kiranya Mbak berkenan memberikan kontak berupa email atau apapun kepada saya. Saya hanya sekedar ingin bertukar pendapat.

    Terima kasih :)

    ReplyDelete
  47. Hai Mbak, maaf anonim, karena saya gak bisa pakai URL apapun nih. Saya nggak tau saya ini bipolar atau bukan, tapi saya pernah mengalami kondisi mau bunuh diri, ada masalah yang bikin sampai gak bisa makan, gak bisa tidur, sampe masuk rumah sakit, marah-marah bahkan sama bos sampe lempar HP, kayanya suasana hati kacau bgt gitu dan lain sebagainya. Jadi ya i know the struggle, more or less. Lekas sembuh ya Mbak.

    ReplyDelete
  48. Adik saya juga divonis bipolar....kombinasi dengan Borderline Personality Disorder.

    Setelah bertahun-tahun dalam penderitaan, akhirnya ia bisa s e m b u h .

    Awalnya ia putus asa karena psikiater maupun dokter mengatakan bahwa penyakit tersebut tidak ada obatnya.

    Saudara kami yang juga seorang dokter tidak menyarankan menggunakan obat apapun.

    Kesembuhannya tanpa sengaja. Ia melakukan terapi ruqyah.

    Pada awalnya tidak ada yang terjadi. Namun setelah beberapa hari ia merasakan kesehatannya semakin baik; dalam arti gangguan bipolarnya dapat dikendalikan.

    Setelah lebih dari satu bulan...

    ...akhirnya ia sembuh. Mood negatif, pikiran yang selalu berkejaran, serta gangguan fisik seperti keletihan hilang.

    Ia sembuh total. Pikirannya terkendali. Emosinya membaik (tentram). Dan fisiknya bugar.

    Ayunan mood tidak lagi dirasakannya.

    Saya berharap informasi ini bisa berguna bagi penderita lainnya.

    ReplyDelete
  49. Semangat terus ya mbak. saya masih harus terus berjuang supaya suami saya bisa punya kesadaran seperti mbak Najmi, Suami saya juga penderita disorder dan schizoprenia.

    ReplyDelete
  50. Mba, aku mau nanya. Tes nya di rumah sakit mana ya Mba? Ada no mba yang bs aku hubungi? Mohon balasan nya ya, terimakasih

    ReplyDelete
  51. mba tadi komen saya masuk gak?

    ReplyDelete
  52. hallo mbak, sepertinya saya juga pengidap bipolar, soalnya mood saya ini labil banget terkadang saya merasa sangat senang dan bahagia, tapi bisa langsung berubah jadi sedih, takut, cemas, gelisah tanpa alasan yang jelas, dan saya juga sulit utk beradaptasi/menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang2 yang baru, jd saya lebih senang menghabiskan waktu sendiri dan saya jg tdk bnyk mempunyai teman. dan krn mood saya ini juga berpengaruh di kerjaan sya, jadi setiap saya bekerja, saya selalu enggak nyaman berada ditempat kerja, saya merasa tidak cocok dg orang2 dikantor saya,saya mudah tersinggung dan klo misalnya klo saya/tmn2 kantor menegur ttg kinerja saya, saya merasa bahwa mereka semua jahat, dan saya merasa terancam. sehingga saya enggak betah. saya klo berada ditempat yang baru merasa tidak aman, cemas, khawatir dan takut. mood saya bisa cepat berubah dari normal (biasa2 aja) sampe sedih banget, dan merasa enggak berarti di dunia ini dan gak berguna. tapi saya tidak berfikir untuk melukai diri sendiri apalagi sampai bunuh diri (saya tdk sampai pd tahap itu) tapiii saya selalu berfikir untuk melarikan diri, ingin pergi jauh ke tempat yang aman, tenang dan nyaman. kehidupan saya dan orgtua cukup baik tapi ayah saya orgnya keras dan selalu ingin agar keinginannya dituruti, dan saya enggak suka akan hal itu soalnya saya tidak suka di paksa. jadi saya pun sering tertekan jika ayah saya memaksakan kehendaknya ke saya (kaya misalnya saya harus menjadi org yg hebat, punya jabatan kerjaan yg bagus dan kerja ditempat yang elit) sedangkan saya lebih senang menjalani / buka usaha sendiri (berwiraswasta), padahal saya ini alumni mahasiswi Psikologi, tapi saya bingung dengan diri saya, dengan mood saya yang turun naik, saya enggak tau apakah ini termasuk Bipolar Disorder???

    ReplyDelete
  53. Mbak Najmi, terimakasih banyak atas postingannya. Saya mengalami kondisi yang kurang lebih sama dengan mbak Najmi. Dari kecil kalau kesal atau kagol (dalam bhs Jawa), saya langsung menangis sejadi jadinya dan merusak barang-barang. Ketika itu, yang saya rasakan adalah kesal luar biasa, bingung, dan tidak mampu mengontrol diri.
    Orangtua saya selalu menganggap saya anak nakal, suka bertingkah (istilah mereka), kaku,manja, malas dll. Bahkan dengan prestasi akademis yg saya raih (ranking 1 di kelas, smp dan sma favorit, kuliah di perguruan tinggi nomer 1 di Indonesia) hal itu tidaklah cukup membanggakan. Saya harus merendahkan diri, berpura-pura bodoh dan bertingkah konyol untuk sekedar mendapatkan perhatian orang-orang di sekitar saya, terutama keluarga dan teman-teman. Hal itu terbawa sampai sekarang bahkan di kantor saya yang lama. Akibatnya, well, saya dibully dimanapun saya berada. Tidak hanya dibully, bahkan saya sampai berpikir bahwa orang-orang tidak akan menerima saya kalau saya tidak bertingkah bodoh dan konyol.

    ReplyDelete
  54. hai, mbak najmi.. sukses terus buat blognya.. :D

    ReplyDelete
  55. Alhamdulillah.. kita gak sendiri. Makasih karena udah sharing kakak2 dan abang2
    ┌(┌^o^)┐ semoga Allah membantu kesembuhan kita semua. ammiinn

    ReplyDelete
  56. Untuk tes bipolar itu bagaiman mba?

    ReplyDelete
  57. Hai kak, aku blm tau aku ini bipolar atau enggak. Aku ngerasa ada yg aneh aja sm diriku. Aku ngerasa kadang kalo aku stres aku bener2 terpuruk, nangis, dan sampai suatu saat aku pernah motong rambut ku sampe kayak cowok. Aku gak tau mau cerita ke siapa, mau cerita ke ortuku blm berani. Cerita ke temen tp malah mereka ngira aku gila, bohong, aneh. Menurut kakak ak hrus gmna ? Ak hrus bilang ke ortuku ? Atau aku hrs gmna. Semakin lama aku ngerasa semakin gak bisa ngendaliin mood ku. Oh ya aku 17th skrng. Makasih bnyk kak buay artikel nya 😊

    ReplyDelete
  58. assalamu'alaikum mbak naaj. jujur aku terharu baca ini. aku Vina Puspa Riani, penderita bipolar juga. umur saya sekarang masih 17 thn. mbak, saya boleh tidak meminta kotak mbak untuk sekedar sharing pengalaman dan berbagi cerita? :) saya bisa dihubungi di nanaavinaa@gmail.com . terima kasih mbak sebelumnya :)

    ReplyDelete
  59. ah, saya juga punya masalah kayak yang mbak lagi hadapi.
    sampai saat ini, saya baru coba sharing sama satu temen saya, dan dengan baik hati dia mau dengerin semua cerita saya meskipun kita sekarang udah ada di beda universitas. dan saya cerita sama temen saya yang kedua, tepatnya desember lalu, tapi dia yang biasa dengerin saya curhat, tapi dia nggak percaya sama saya. dari sana, saya nggak lagi berani cerita masalah ini sama siapapun. yeah, ini bukan masalah yang bisa dimengerti kayak saya cerita kalau saya punya masalah sama perut saya.
    saya pernah mikir uat cerita sama orang tua saya, tapi saya liat, orang tua saya pun ada di posisi yang nggak gampang, yang intinya saya ngerasa saya gak bisa cerita sama mereka, seenggaknya sekarang.
    saya tau punya masalah kejiwaan waktu umur saya 15 tahun, saya sering bicara sama suara yang nggak bisa orang lain denger, darisana saya cari tau semua gejala yang saya alami dan saya ngambil kesimpulan punya gangguan kejiwaan.
    selama SMA, saya terus nyari informasi seputar masalah saya, tapi saya belum bisa terbuka sama keluarga. tapi di universitas, sistemnya keras. kakak tngkat saya membuat acara semacam masa bimbingan seminggu sekali dan satu angkatan saya selalu dibentak-bentak, dimarahi, dengan alasan untuk memperkuat kekeluargaan. dan saya sangat-tidak-suka-dibentak. dan saya cenderung melawan, dan ini bikin tingkat stress saya ningkat. saya akhirnya mutusin gak ikutan acara ini lagi, tapi temen-temen kuliah saya cuma nganggap saya males -mereka nggak ngerti gimana tingkat depresi saya jadi menggila, kepala saya serasa mau meledak tiap mau ngadepin acara ini. saya selalu melawan dan orang lain nganggep saya keren, tapi sebaliknya, saya ngerasa sakit.

    ReplyDelete
  60. Semoga ini menjadi alternatif kemajuan diri, sbb:

    ReplyDelete
  61. saya sudah punya istri mbak. dan mungkin ini terlalu sulit untuk dijelaskan, bukan karena saya tukang selingkuh. tapi tidak bisa saya pungkiri saya masih sayang sama mantan pacar saya dulu, dan akhir waktu ini saya baru tau kalo mantan saya itu mengidap bipolar juga. saya sangat ingin membantunya (memberi supoort dan semacamnya) tapi sulit sekali bagi saya untuk melakukannya karena keterbatasan saya antara waktu dan status saya yang sudah menjadi suami orang lain. semoga tuhan selalu melindungi mantan saya dan teman teman yang juga mengalami kondisi seperti mantan saya.

    ReplyDelete
  62. seperti baca biografi diri sendiri..

    ReplyDelete
  63. Aku juga penderita bipolar disorder, usiaku 14 tahun dan aku masih kelas 8 JHS, dan gara2 penyakit ini aq kesulitan cari teman, aq nangis tiap hari, tiba2 aja pengen nangis, terus ketawa, ortu aq nggak tau kalau aq menderita bipolar disorder, aq diem aja, nggak ada yang tau kalo aq menderita bipolar bahkan sahabatku nggak tau, aq depresi tiap hari kaya orang gila
    #cepatsembuh amiiinn

    ReplyDelete
  64. Hai mbak..lg search ttng mental illness trus ketemu blog mbak..salut mbak..sangat berani mengutarakannya. Saya jg sedang berjuang dgn anxiety disorder (diduga). Saya mengalami mood yg bergantian antara kecemasan dan tdk ada antusiasme lg dengan hal2 yg dulu saya sukai..srng saya merasa kosong. Saya sempat di salah artikan banyak orang sampai sekarang saya jd lbh menutup diri. Saya sempat berkonsultasi dgn psikolog tetapi ntah mengapa msh kambuh-kambuhan. Saya sendiri sprti kurang motivasi untuk mau sembuh. Semangat ya mbak..kita sama2 berjuang :"). Terima kasih sudah menulis blog ttng ini, saya jd sedikit tdk merasa sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Monalisa, this is a gently reminder;"you're not alone" :)

      Delete
  65. Saya juga ODMK(Orang Dengan Masalah Kejiwaan).
    Dan saya tidak malu mengakuinya, karena saya ingin menghilangkan stigma negatif terhadap orang dengan gangguan jiwa.

    ReplyDelete
  66. saya sendiri mengidap bipolar sejak 2011 dan sembuh sejak 2013 tapi belum sembuh total. dan sembuh total saya rasain sejak 2015. kalo kakak sendiri masih ngidap penyakit bipolar nya?

    ReplyDelete
  67. Hi, mbak.
    aku nggak sengaja ketemu blog ini di mbah gugel. :')

    ReplyDelete
  68. ada beberapa anak muda yg ditinggal orang tuanya namun tetap berprestasi. namun pada titik tertentu, anak tersebut sangat depresi dan orang tua hanya memberikan materi sebagai obat. sebagai contohnya aku, aku dapat berprestasi dan kuliah di salah satu PTN terbaik bangsa namun hanya dengan mengenang masa lalu aku sangat sedih, banyak rasa iri thp teman" yg tinggal bersama orang tua, blm lagi rasa itu ditambah dgn tuntutan ortu yg ingin kita punya nilai akademik yg baik. semua itu membuat saya stres dan depresi dan hingga akhirnya saya mengidap bipolar ..jangan sampai anak anda semua hidup seperti saya.

    ReplyDelete
  69. Naaj, akhirnya aku tau apa yg aku rasa, dan aku tau aku ga sendirian. Beruntung pernah ketemu kamu dan sekarang aku juga yakin, tuhan mempertemukan kita waktu itu bukan tanpa alasan.

    Saya bima, seorang dokter dan saya seorang bipolar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bimaaaa! Miss ya lots! Ya Tuhan punya rencana Bima.

      Delete
  70. Nama saya anggie, wanita berusia 21 tahun. Saya penderita 3 komorbiditas gangguan jiwa (bipolar 1, adhd, borderline). Saya dianggap aneh dan unik sama orang2 sekitar. Beberapa merasa bahwa sifat, sikap, karakter, emosi, dan nalar saya berbeda dari orang2 pada umumnya. Bagi saya, ini adalah keistimewaan dan anugrah yang diberikan Allah kepada saya. Saya justru senang dengan kejujuran mbak. Mbak berani berbagi pengalaman, menurut saya ini sangat inspiratif. Intinya, kita harus berani menjadi diri sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, we are all special Anggie :)

      Delete
    2. ayah salma eliani24 August 2016 at 00:45

      saya sudah satu tahun setengah berobat jalan dengan psikiater di bandung, awalnya saya sakit maag lalu berobat tapi tidak sembuh dan spesialis penyakit dalam merujuk ke psikitaer karena di diagnosis ada ansietas kemudian makan obat depakote 250/ hari dan alprazolam 0,5 mg yang dimkn 1/4 per hari setelah satu tahun pengobatan dokter menduga saya ada swing mood dan memenuhi ciri bipolar yang saya akui ciri tersebut sudah ad dalam diri saya di usia 17 an dan tidak masalah sampai usia 40 an dimana saya ngedrop depresi sehingga gak bisa jalan baru disadri itu sebagai penyakit.Karena ciri bipolar saya arahkan ke pekerjaan sehingga saya workaholik dan lambung saya kena maag dan tubuh kekurangan nutrisi untuk membiayai energy hyperaktif pada waktu saya good mood. karena bipolar adalah bawaan saya menganggap itu karunia Allah ke saya untuk modal hidup dan ibadah seperti sebelum saya ngedrop. Masalah saya sekarang saya jadi mengkonsumsi obat yang menjadikan saya lemah tidak atraktif , kurang insiatif, malas , dan lainnya saya pikir ini bukan diri saya dan ini saya yang di kendalikan obat. Saya ingin lepas obat tanpa melanggar bimbingan psikiater yang sebulan sekali saya datengi untuk meminta resep obat. Saya ingin kembali ke saya yang dulu dan mengendalikan diri terhadap karakter bipolar dengan kemampuan diri dan bukanlah obat. Adakah yang bisa kasih saran atau tempat komunitas bipolar di kota bandung.

      Delete
    3. Kalau dikota bandung sy agak kurang tau mas, bs ditanyakan ke twitternya bipolarcare indonesia :)

      Delete
  71. Bu, artikel ini boleh aku jadikan sebagai bahan esay ku ngga? boleh yaa....

    ReplyDelete
  72. bagaimana menjelaskan & menyakinkan pada keluarga jika seorang bisa mengidap bipolar?
    seperti cerita mbak pertama kali kepada suami,suami mbak menganggap remeh hal tsb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Just be honest, Kara. Mereka yang memang sayang dengan kita pasti tau kita memerlukan bantuan.

      Delete
  73. Sedih dengar kisah mbak naaj, salam kenal mbak
    Aku orang baru yg mampir karena penasaran dengan bipolar
    Aku bingung, semenjak orang tua bertengkar dirumah 6 tahun yang lalu
    Mood aku sering berubah, tapi setelah kuliah, mood itu bisa terkontrol karena mau membuka diri dengan teman baru
    Tapi setelah kejadian 26 agustus 2016, malam itu malam penentu aku lulus atau tidaknya untuk wisuda, eh malam itu dosen penguji bilang aku gak lulus, semenjak itu mood sering berubah, kadang pengen marah kadang nangis terus, kadang teriak teriak gak jelas
    Sudah lama aku pengen tau bipolar disorder itu apa? Aku termasuk gak ke dalam penyakit ini? Aku baca artikel, tanda tanda depresi ringan, itu semua ada di aku, aku selalu nangis semenjak kejadian gak lulus itu, disini pula aku bisa curhat
    Semua teman aku udah pada lulus, dan aku sndri yg blm, jadi aku tambah sedih
    Malam ini cari orang yang mau dengar cerita aku, agak sedikit lega cerita disini
    Gak tau juga, aku ini disorder atau bukan
    Tapi malam ini aku ingin bercerita sama

    ReplyDelete
  74. Halo Mbak! Selamat siang!
    Mbak, sebulan lalu saya didiagnosa mengidap Bipolar. Sejujurnya, tidak banyak yang berubah, hanya seperti kit menjalani itu dari dulu dan sekarang kita mendapat label. Saya sempat mempertanyakan psikiater saya kenapa saya harus diobati, saya berfikir selama ini, (sekarang saya paham kalau itu disebut manic episode) itulah yang menjadi kekuatan saya. Tapi psikiater tercinta -ya, saya suka psikiater saya- memberitahu saya kalau hal itu akan membawa dampak negatif terhadap keluarga, karir dan sosial. Saya langsung terdiam karena memang saya terdorong untuk menemui psikiater karena memikirkan dampak bagi keluarga. Beruntung saya mendapat seorang teman, beliau conselor dan native America, beliau yang mulai mengartikulasikan apa yang saya rasakan. Saya juga memiliki seorang suami yang mampu mengimbangi dan lebih mendukung setelah paham kondisi saya.
    Sejujurnya, saya tidak pernah malu sebagai penderita bipolar. Mbak pasti paham dimana bagian terbaiknya dan terburuknya. Yang tidak baik itu jika kita menutupi dengan dalil malu dan kehidupan keluarga kita dipertaruhkan. Saya ingin berbuat lebih dengan label Bipolar ini. Jangan khawatir, Einstein, Van Gough, Churchill, Lincoln n Beethoven juga Bipolar kok, dan karya mereka tidak diragukan dan tidak kurang dari apa yang mereka katekan sebagai "orang normal" kan?
    Salaam.

    ReplyDelete
  75. Hai, mbak Na (boleh saya memanggil seperti itu?) Mbak, apa kita bisa sharing lebih lanjut? Saya gak sengaja baca artikel yang berisi tentang bipolar, dari gejala yang ada, saya merasa kalau saya mengalami hampir semuanya. maka itu saya cari lebih jauh tentang BD dan beruntung sekali saya bisa menemukan artikel mbak. Saya hampir mengalami semua yang mba ceritakan.

    Saya takut jika boleh jujur, saya belum tahu apakah saya memang benar2 mengindapnya. Dan saya lebih takut lagi jika nanti saya tahu kalau saya benar2 mengindapnya bahkan cerita pada orang terdekat pun saya takut. Jadi, mabak, apa bisa kita berbagi mbak?

    ReplyDelete
  76. terus semangat terapi mba naaj. nga sengaja singgah diblog ini. ternyata ada puisi2 yg kalimat2nya wooww...membaca puisi mba naaj "sesuatu"

    ReplyDelete