RINDU

05:13

penantian itu adalah akibat dari rasa cinta sejati yang tumbuh. Aku mencintainya dengan tulus tanpa embel embel apapun. Tanpa titik dan tanpa tanda koma. Maka dari itu aku selalu menantinya pulang…”



Suara mesin mobil menderu di halaman. Kepalaku mencelat dari balik tirai jendela memastikan bahwa dia telah pulang. Lelaki dengan style metroseksual bergegas keluar dari mobil. Menutup pintu pagar terlebih dahulu sebelum akhirnya menutup pintu mobil sedannya yang sudah dua tahun ini menemaninya bertarung melawan kemacetan kota Jakarta. Aku beringsut pelan menjauhi jendela.

Pintu rumah berderit pelan terbuka. Dia muncul dengan senyum yang hampir saja tak terdeteksi bola mataku. Dia menatapku yang berdiri disamping pintu. Mengelus kepalaku. Dengan sigap melempar tasnya di atas meja kemudian berjalan pelan sambil mengendurkan dasi dan membuka kancing kerahnya. Aku tidak berhenti menempelkan pandanganku pada sosoknya yang kini terduduk di sofa ruangan tengah. Aku berjalan pelan mengambil tempat untuk ikut duduk disampingnya.

Malam ini, langit membeku. Hujan berhenti. Tak ada sesuatupun yang hangat yang bisa aku temukan seperti tempo hari, tidak matanya tidak juga pelukannya. Semua  dingin dan kaku. Mungkin habis tergerus dijalan bersama roda kendaraannya yang menderu.

Aku selalu disini, menanti dia pulang dalam keadaan apapun. Dalam keadaan senang atau sedih, tertawa atau menangis. Terkadang dia pulang dengan luapan emosi yang tidak bisa lagi disembunyikannya dan tak mencapai nalar pikirku dengan menendangi segala sesuatu dihadapannya, tak jarang pula terkadang dia pulang dengan wanita yang berbeda setiap minggunya, tertawa berpelukan hingga mereka menghabiskan malam yang meninggi dikamarnya, sampai matahari mencium pelan kedua pipinya dari balik jendela, atau pulang dalam keadaan dimana kadar alkohol tinggi mengambil alih kesadarannya.

Dan Aku selalu disini menunggunya pulang berharap Tuhan mengabulkan doaku untuk sekedar meraihku dipelukan hangat nya seperti dulu lagi. Menghabiskan malam mendengarkan racauannya sambil menikmati cemilan yang dia buat atau sekedar menemaninya menyaksikan klub bola favoritnya berlaga di televisi hingga terlelap.

Sudah tidak bisa kuhitung lagi berapa banyak malam yang kuhabiskan dalam diam untuk menantinya pulang. Kata nya penantian itu adalah akibat dari rasa cinta sejati yang tumbuh. Aku mencintainya dengan tulus tanpa embel embel apapun. Tanpa titik dan tanpa tanda koma. Maka dari itu aku selalu menantinya pulang.

Kami berdua sama sama terhisap dalam diam yang mengerak di sofa. Aku dipaksa untuk menebak isi pikirannya saat dia menoleh ke arahku dan bertanya “Wanna watch TV?” yang kubalas dengan anggukan. dia mengambil remote dan mulai menyalakan kotak cerdas yang menampilkan efek visual serta audio terbaik yang pernah diciptakan manusia.

Klik
‘Selamat malam pemirsa, breaking news malam ini bla bla’
Klik
‘anda salah coba kita lihat jawabannya, Survey membuktikan..’
Klik
‘saya mengeluarkan statement ini agar perceraian kami tidak menjadi isu yang bla bla.
Klik
‘pemirsa, hari ini harga index saham IHSG melonjak turun 37 poin.”

Ingin aku berteriak bahwa aku tidak butuh acara TV apapun untuk mengalihkan perhatianku darinya. Aku hanya ingin berada dipelukannya. Tapi dia tidak pernah mengerti.

Klik.

TV dimatikan, dia tidak bisa menyembunyikan kebosanan yang lama bersarang menjadi parasit dalam dirinya tanpa dia sadari, dipejamkannya mata mengusir rasa bosan yang mulai menari nari dihadapannya. Tetap saja aku melihat kesedihan yang menjalar melalui wajahnya. Entah apalagi yang menyebabkannya sedih. Dugaanku benar, saat dia berjalan menuju piano yang terletak di ruang tengah dan jari jemarinya mulai memainkan lagu itu lagi, lagu yang siapapun mendengarnya pasti akan merasakan kekuatan dari kesedihan si pemainnya. Lagu yang kubenci karena lagu inilah yang menenggelamkannya dalam air mata dan kesedihan. Pikiranku mengembara tepat setahun yang lalu saat gadis dengan potongan rambut pendek dan kacamata yang paling dicintainya meninggalkannya untuk hidup bersama dengan pria lain, brengsek!

Gadis itu membiarkan dia bertransformasi dari lelaki yang bahagia menjadi lelaki yang lemah dan rapuh dengan pertahanan hati yang tak lebih dari sejangkal juga membiarkannya tenggelam dalam lautan air mata juga endapan alkohol di aliran darahnya.  Aku membenci gadis itu dengan seluruh kekuatan hidupku. Dia menghentikan permainan pianonya, menarik nafas dan meraih gelas di atas meja disampingnya, dia mulai menungkan cognac kedalam gelas berbentuk tulip. Tidak lagi Tuhan, tolong jangan malam ini.. doaku pada Tuhan.

Dia berhenti dan melihat ke arahku, mataku. Sepertinya dia mendengar doa ku yang baru saja terbang menuju pintu rumah Tuhan dan segera meletakkan gelas berisi cognac pada tempatnya tanpa sempat tersentuh bibirnya, kemudian menyeret langkahnya ke arahku dan tersenyum hangat, senyum yang selama ini aku tunggu. Senyum yang penuh, senyum yang membuat aku jatuh cinta padanya pertama kali aku melihatnya dulu. Dia membuka kedua tangannya untukku berlari ke arahnya dan memeluknya. Aku berlari menuju pelukannya, pelukan yang setahun terakhir ini dia alpa memberikannya untukku.

“Come Brownie, I miss you so much. Let’s go sleep now, I’m sorry for letting you alone in here. Tomorrow I’ll take you to the park to play Frisbee as usual.”

“Guk..Guk.” aku mengibaskan ekorku senang.

Dia merapatkan pelukannya terhadapku, melebur sudah rasa rindu seekor anak anjing dari ras Samoyed terhadap tuannya. aku merindukan dipeluknya dan kini aku merasakan kembali dekapan tangannya yang hangat. Aku merindukan saat bermain di taman bersamanya atau sekedar berjalan mengelilingi perumahan saat senja menipis. Terima kasih Tuhan, masih ada cinta yang tersisa dalam diri tuanku untukku setidaknya untuk malam ini. Entah bagaimana esok hari.

You Might Also Like

0 comments