Mengenai Biru

04:05



Sebuah senja terlewat tanpa adukan krim pada kopi hitam kental, barangkali hanya batangan nikotin yang mampir ikut menghitamkan sudut bibir. Aku sedang menikmati dirimu lewat rekaman gambar jutaan pixels kamera digitalku, saat matahari tergelincir jatuh pada jalanan yang licin karena hujan. Proyektor tua di otak ku kembali memutar potongan-potongan kenangan pendek dalam frekuensi tinggi tentang mu.

Biru, begitu aku kerap menyapanya. Kulit tubuhnya tidak berwarna biru seperti bangsa na’vi, Bola matanya pun jauh dari biru apalagi warna rambutnya, hitam bercahaya bukan biru. Lantas mengapa aku menyebut dirinya dengan biru?

Begini, apa kamu pernah mendengar legenda tentang sebuah negeri yang tenggelam ke dasar lautan yang biru, yang pernah dikemukakan seorang filsuf bernama Plato dalam dua karyanya “Timaeus” dan “Critias”? Orang berkata masih ada kehidupan di dalamnya. Mereka berlomba mencari dan berargumen disamudera mana letak negeri tersebut tenggelam. tapi dengan teknologi semutakhir jaman sekarang pun argumen mereka terpatahkan sia sia karena birunya lautan menyimpan rapat rapat keberadaan negeri tersebut hingga menjadikannya sebuah misteri yang belum terpecahkan sampai sekarang.

Sekarang mari lihat langit yang biru diatas sana, kita memandang langit yang sama bukan? apa kamu tahu bahwa ada kehidupan di atas langit sana? Dan manusia-manusia mengungkapkan konsep tentang “kota kecil berupa ruang kehidupan’ jauh dibalik langit biru, dimana terdapat planet yang serupa dengan bumi. Lantas mereka berbondong menciptakan pesawat ulang alik untuk mendeteksi keberadaan kehidupan di balik lipatan angkasa biru. Tapi langit menarik tirai birunya untuk mengaburkan konsep manusia hingga berakhir menjadi sebuah misteri.

Untukku, biru adalah misteri. Dan dibalik biru ada sebuah kehidupan yang tidak terjamah siapapun. seperti lautan dan langit yang menyimpan misteri lewat birunya, begitupun kamu. Dibalik biru mu, kamu menyimpan misteri yang tertutupi. Misteri yang belum bisa kupecahkan.

Mungkin kamu berada disana ketika itu karena rasa penasaran yang kuat, sementara aku berada disana karena cinta yang diam diam memenuhi semesta kecilkuCinta bermula di hari dimana kamu menyeruput mie ayam dengan alis naik turun, bercerita tentang kehidupanmu di negeri sakura yang berguguran pada musim semi dan aku memperhatikanmu. Semangkuk mie ayam dihadapanku menjadi tidak menarik untuk kulahap dibandingkan cerita dan gerakan bibirmu yang membuatku gila. Jika saja tidak ada pelayan saat itu mungkin aku sudah melahap habis bibirmu yang merekah karena rasa pedas.

Sang Maha merancang rencana, menarik kita duduk pada bangku yang sama lewat seutas tali yang tidak terjamah kasat mata. Lantas kita berhasil melintasi stigma waktu yang mampu merubah luka menjadi tawa, yang membekukan air mata menjadi kristal berkilau di mata masing masing. Kupu kupu meggelitik perutku saat aku menekuri garis wajahmu yang tegas. Mencoba menghitung berapa kali kamu melemparkan pandangan ke arahku.

Kalau boleh jujur, aku tidak suka keadaan dimana lidahku kelu saat bertatap rupa denganmu. Beribu cakap yang kusiapkan membeku ketika mataku bertemu dengan matamu yang sayu. Dentuman hebat di kepalaku memaksa untuk memuntahkan racauan dihadapanmu, racauan tentang hati yang menunggu, tetapi aku hanya bisa menelannya kembali. Jemariku pun bisu gagu untuk bisa berdialog dengan selembar kertas, mengungkap apa yang terasa oleh hati. Menyedihkan, seketika aku menjadi tidak jujur dengan diriku sendiri.

Aku hanya diberi kesempatan selama setengah hari untuk mencari titik fokus dirimu dibawah matahari senja sebelum menekan tombol rana di kamera. Diakhiri dengan berbagi batang nikotin dan bertualang mencari oleh oleh khas untuk kamu bawa kehadapan kerabatmu di negeri seberang. Kamu sempat memberikan gantungan handphone yang mungil bergambar perempuan dalam balutan kimono sebagai pengingat kamu pernah mampir disini. “Terima kasih” ucapku.

Ini bukan cinta karbitan. Butuh waktu dan proses untuk mempelajari rasa kagumku yang pelan pelan  menjelma cinta. Proses yang tidak mudah, seperti membaca buku dengan beratus halaman. Perlu kesabaran, ketelitian dan sedikit campuran rasa penasaran bagaimana ending-nya. Jadi aku mengambil posisi terbaikku untuk membaca mu secara perlahan, pasang musik favorit, seduh teh melati dan duduk di sofa menghadap senja.

Detik bergeser. Matahari rebah. Aku didera rindu semenjak Biru mengembangkan sayapnya untuk terbang kembali ke negeri tempatnya mereguk apa yang ditawarkan hidup.  Apakah ini kehendak Sang Maha untuk menuliskan tentang kamu yang selalu berjalan ke barat dan aku yang melangkah ke timur?

Aku hanya bisa mengirimkan doa dalam potongan matahari senja keemasan yang kamu terima di kotamu. Pertanyaan di hatiku mungkin terbaca olehmu, karena diam adalah jawaban yang kuterima darimu. Aku pun mulai terbiasa dengan otak kananku yang kerap mengusir dirimu, tapi bukannya menghilang, kamu mengambil langkah untuk pindah ke otak kiriku dan kembali memenuhi ruangku yang terbangun dari struktur rasa nyeri dihati.

Kawanku bilang hanya keledai yang jatuh kedalam lubang yang sama. Aku memang sebebal keledai. Gagalnya percobaan pertama tidak lantas membuatku tidak meneruskan percobaan kedua, ketiga, keempat bahkan seterusnya. Puluhan kali aku terjatuh dalam lubang yang sama, puluhan kali hatiku robek dalam hal yang serupa dan terlalu sering juga aku menjahit kembali hatiku dengan kain perca secukupnya, asalkan rasa nyerinya tertutupi dan hilang sedikit, maka itu pertanda aku siap melakukan percobaan berikutnya.

Tapi hari ini aku memutuskan untuk berhenti jatuh ke lubang yang sama. Aku berhenti mencoba. Aku berhenti untuk berharap. Tidak pernah lagi aku merumuskan harapan untuk menjadi bagian dari birumu. Kusimpan semua harapanku di kotak berwarna cokelat yang kuletakkan di kolong tempat tidur bersama dengan kartu pos yang pernah kamu kirimkan dari negeri dimana matahari memulai untuk terbit.

Tidak ada satu gurat senja pada lini masanya, pun tidak dalam pesan singkat yang dulu kerap menyambangiku pada saat malam mulai meninggi. Mungkin sudah saatnya aku membaca pesan tersembunyi yang diisyaratkan Tuhan melalui alam untuk melangkahkan kaki tidak lagi menunggunya, walaupun rekam jejak racauannya masih terdengar jelas. Kelak akan ada hari dimana dari kita masing-masing tersadar bahwa tidak ada lagi cerita hujan di senja yang pernah membirukan hati. Kita kembali menjadi asing.

Mungkin aku mencintaimu, hanya saja sekarang aku bersembunyi di balik kata ‘mengagumi’. Tidak berani aku meminta hatimu lebih. Hanya doa yang aku kirimkan ke meja kerja Tuhan: semoga suatu hari hatimu mencair, entah untukku atau untuk gadis manis yang dulu kerap kamu ceritakan.


          Aku baru saja menyadari bahwa rindu adalah musabab terbentuknya partikel air asin yang mengalir bebas di wajahku beberapa hari yang lalu. Tapi hari ini aku sendu sebab aku memutuskan membunuh rindu untuk Biru dan membiarkan Biru tetap menjadi misteri yang hanya bisa kunikmati sebatas permukaan dari kejauhan.

You Might Also Like

0 comments