Survive from Bipolar Disorder (part 1)

06:57

My symptoms started in childhood, when I was 7 years old, and then it became worse over the years. To be honest, I had made two or three unsuccessful suicide attempts during my life. When I get married on 2013, my depression has a much greater impact on my marital life; My mind is chaos. It’s hard for me to think straight and communications is a big issue for me and my husband, we’re not on the same page. I feel anxious, sad and angry at the same time until I don’t know what I’m feeling anymore. Many times I forget how hurtful my words can be when I’m expressing how anxious or depressed I am.
Do I want all of this condition?
NO.
I dont wanna dwell in this situation anymore,  I’m really tired. Di satu sisi saya harus melawan stigma orang banyak tentang pemikiran mereka bahwa Bipolar adalah penyakit gila. Saya juga berjuang melawan tatapan orang orang yang terlanjur melekatkan stigma itu di kepala mereka. Saat saya mencoba terbuka tentang Bipolar saya kemudian mereka mengatakan bahwa bipolar itu gila.
apakah perkataan mereka menyakitkan saya?
TENTU.
Bipolar bukanlah penyakit gila melainkan penyakit suasana hati dimana perubahan mood terjadi sangat cepat dari ceria ke depresi akut yang bisa menyebabkan penurunan kualitas hidup. Penderita bipolar tidak bisa semudah orang normal dalam melakukan manjemen emosi, dan orang non bipolar kebanyakan tidak memahami hal ini. Hal terburuk yang muncul dari Bipolar ini apa? keinginan untuk bunuh diri dan percobaan bunuh diri.
saat saya didiagnosa mengidap bipolar, saya pun dinyatakan tidak bisa memiliki anak, bahkan kalaupun bisa maka kemungkinannya kecil, itu karena efek obat-obatan yang nantinya saya konsumsi. Saya hancur. Saya merasa bipolar menghancurkan semua hidup dan mimpi saya.
Tapi saya beruntung karena saya memiliki seorang suami yang juga sosok caregiver yang selalu memberikan supportnya ke saya, dia bilang tujuan dari pernikahan itu bukan memiliki anak tetapi menyatukan dua dunia menjadi satu, anak itu hanya bonus dari Tuhan.
Di satu titik saya sangat lelah untuk minum obat karena efeknya saya jadi sangat mengantuk dan hampir tidak bisa berkegiatan bahkan kerjaan saya dikantor saat itu pun jadi terbengkalai. So at that time I made a decision to stop taking my medicine and take a spiritual faith to boost my capacity to endure and survive the symptom. Keputusan yang berani, karena sebenernya penderita Bipolar seharusnya tidak berhenti mengkonsumsi obat.
Satu bulan pertama tanpa obat-obatan adalah neraka.
Emosi saya turun naik, saya seperti dipaksa menaiki roller coaster dan menghadapi badai, keinginan bunuh diri yang kuat dan sampai saya benar-benar berpikir untuk menyerah, Sometimes when I’m a danger to myself or when I shout: “I just want to be dead. I cant take this anymore.” Thankfully my husband knows that it’s my depression side, not me. as a result of his conversations with my psychiatrist then he has been able to separate his wife from the illness. suami saya mengingatkan saya untuk terus bertahan dan kuat, dia merelakan dirinya untuk jadi sasaran emosi saya yang turun naik. Saya ingat setiap suami saya menjadi sasaran emosi saya, dia hanya diam memejamkan mata sambil berdoa. Dalam doanya saya mendengar dia selalu memohon kepada Tuhan agar saya sembuh.
jujur saya bukan orang yang religius. Tapi suatu malam saya terbangun dan sholat. Dalam sholat saya menangis berdoa; saya ingin sembuh, Tuhan tolong saya.  Semenjak sering berdoa, saya jadi lebih santai ditambah saya belajar memanage emosi saya pelan-pelan dan memutuskan untuk berani menghadapi ketakutan terbesar saya yang juga menjadi trigger memburuknya Bipolar saya dari tahun ke tahun…
(Continued in part II)

You Might Also Like

0 comments