Survive from Bipolar Disorder (Part II)

07:00

If you know people who are suicidal, or if you know people who are bipolar, depressed, have panic attack disorder, just be there for them. They’re going through something that’s very, very hard. – Eric Millegan
Trigger dari Bipolar saya adalah buruknya hubungan saya dan ibu saya. Hal ini terjadi sedari saya kecil. Hubungan saya dengan ibu saya tidak pernah baik, tidak seharmonis hubungan ibu dan anak perempuan pada umumnya, bisa dibilang kami musuh bebuyutan. Saya adalah kloningan ibu saya, saya pun tumbuh menjadi sosok yang persis dan keras seperti ibu saya. Ibu saya keras dalam mendidik saya sejak kecil setiap kali saya menangis ibu akan mengurung saya dan hal itu yang menyebabkan saya menjadi depresi juga membenci diri saya sendiri.
juli 2014, Saat itu sudah hampir setengah tahun lebih saya putus komunikasi dengan ibu saya, terakhir kali kami bertengkar hebat dua minggu setelah ayah saya meninggal di 2013 sampai saya berucap tidak akan pernah mau bertemu ibu saya lagi begitupun sebaliknya.
Saya sadar jika saya ingin sepenuhnya sembuh saya harus berdamai dengan masa kecil saya, salah satunya dengan pergi menemui ibu saya. Saya kangen dengan ibu dan lelah bertengkar dengan ibu. Suami saya meminta saya untuk datang menemui ibu saya untuk memperbaiki hubungan kami.
Saya pun memutuskan pergi menuju rumah ibu saya. Dengan bantuan kaka perempuan saya, akhirnya saya bisa menemui ibu saya. Rasanya berat untuk melangkah masuk mengingat terakhir kali kami bertemu dan bertengkar hebat. Tapi rasa kangen saya begitu besar hingga mengalahkan ego saya.
ibu saya disana, melihat ke arah saya. Kami diam lama. Ibu saya menangis, saya menangis dan memeluk ibu saya.
saya memaafkan diri saya dan masa kecil saya.
semalaman saya tidur dipeluk ibu saya, hal yang saya impikan sejak kecil. Kami banyak mengobrol dan tertawa. Saya lega. Semenjak ketemu dengan ibu saya, hubungan kami semakin membaik. Bahkan saya bercerita tentang bipolar saya ke ibu yang disambut pelukan ibu serta ucapan “maafin mama ya..”
ada perasaan lega setelah bertemu ibu saya, sepertinya beban saya bawa selama 20 tahun terlepas juga, semua emosi, kemarahan dan kebencian saya luruh. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah bagaimana saya menghabiskan waktu dengan ibu saya dan mensyukuri semuanya.
peribahasa ‘semua akan indah pada waktunya’ itu ternyata benar adanya. Dengan penuhnya dukungan dari suami, keluarga suami, kakak, sahabat dan ibu saya akhirnya saya dinyatakan sembuh dari Bipolar oleh psikiater saya.
Saya juga dapat bonus dari Tuhan; Saya hamil dan telah melahirkan gadis kecil yang cantik pada 21 Agustus kemarin. Bahagia? iya. saya bahagia karena saya berhasil melawan Bipolar dan beruntung bahwa saya memiliki suami saya  yang tidak pernah berhenti yakin bahwa saya bisa mengalahkan bipolar.
Saya yakin, penderita Bipolar dapat sembuh. Yang penting dari semua adalah kehadiran caregiver yang tidak henti memberikan support serta lingkungan yang memacu semangat penderita untuk sembuh. I realize many people with bipolar disorder want to keep their condition private and secret; they don’t want to deal with stigma, because they’re afraid of discrimination or maybe even getting branded as mentally deficient or weak. but people who dealing with depression, bipolar and other disorders are not weak. They’re the strongest person because they know what suffering is and are willing to help ease the suffering of other.
pesan saya, jangan hakimi seorang penderita bipolar karena hal yang menurut anda mudah dilakukan tidak begitu tampaknya untuk penderita Bipolar. Mereka berjuang melawan sesuatu hal yang tidak pernah kita ketahui dan tidak kita mengerti. Yang tidak pernah kita ketahui adalah hidup seorang penderita bipolar sangat berat dan tidak jarang dari mereka memutuskan mengakhiri hidup karena tidak kuat. Empati terhadap sesama dibutuhkan disini bukan olok-olok atau kalimat “kasian yah..” penderita Bipolar tidak memerlukan olok-olok atau kalimat semacam itu tapi mereka memerlukan pelukan, senyuman serta dukungan dan keyakinan bahwa mereka bisa sembuh dan melewati semuanya.
 Regards,
Naaj

You Might Also Like

2 comments

  1. Dear mbak naaj, salam kenal :)

    Saya tersentuh membaca posting mbak tentang bpd ini.

    Kalau boleh saya sedikit bercerita.
    Sekitar seminggu yang lalu saya browsing tentang anger management. Tentang mood swing. Dan hal2 yang berhubungan dengan pengendalian emosi.

    Sampai akhirnya saya terbawa di salah satu link tentang bipolar disorder.
    Dan saya sangat terkejut, karena apa yang tertulis semua disana hampir semua pernah saya alami. Episode demi episode. Yang sebelumnya tidak pernah saya mengerti kenapa bisa terjadi. Dan memang benar, sedikit banyak merusak kehidupan sosial saya dari sejak masa kecil. Bahkan dengan suami (hiks)

    Dari situ, saya langsung copas link yang saya baca (dan banyak link lainnya) yang membahas tentang bipolar disorder ini. Dan akhirnya saya (dan semoga suami) mengerti, apa yg terjadi selama ini, bukan tanpa sebab.

    Saya belum ke psikiater mbak. Tapi dari semua link yang saya baca (termasuk akhirnya nemu blog mbak) pada akhirnya hampir 100% pernah terjadi pada saya.

    Saya bingung apa harus ke psikiater, atau langsung mencoba menterapi diri sendiri secara mandiri.

    Dan sebelum membaca blog mbak, saya sempat berfikir bpd ini tidak bisa disembuhkan, hanya bisa ditekan munculnya supaya tdk ada serangan yg terlalu merusak.

    Tapi setelah membaca blog mbak, saya jadi semangat utk sembuh.
    Mungkin tetap harus datang ke psikiater utk memastikan juga. Walaupun agak keberatan kalau harus butuh obat, karena saya punya 2 anak yg masing kecil2.

    Tapi dengan membaca blog mbak, saya jadi lumayan lega, tidak terlalu kuatir seperti saat minggu lalu tau ttg bpd ini.

    Terimakasih sebelumnya, karena tulisan mbak naaj sangat menginspirasi saya.

    Saya belum bicara dengan siapapun tentang bpd ini kecuali dengan suami. Dan memang belum siap.

    Beberapa hari lalu, suami menyuruh saya coba menulis apa yg terlintas di pikiran saya saat serangan sedih/frustasi datang.

    Saya bukan penulis dan belum pernah menulis di blog sebelumnya.
    Mungkin kalo mbak tidak keberatan, mbak mau membaca 1 saja tulisan saya. Ga beraturan karena murni menulis impulsive apa yg terlintas di otak hihi

    Btw setelah baca posting saya, tlg dihapus ya mbak :D

    Terimakasih ^^

    ReplyDelete
  2. Haaloo mbak naaj, salaam kenaal :D

    Terharu sekali membaca postingan postingan mbak Naaj tentang Bipolar Disorder.

    Mbak Naaj, kalau tidak keberataan saya pengen tau bentuk support seperti apa yg selalu diberikan suami Mbak dan keluarga terdekat sehingga Mbak merasa lebih baik terutama ketika mood-nya turun drastis?

    Sekedar berbagi Mbak, tunangan saya pun penderita Bipolar Disorder. Psikiater-nya sudah mendiagnosis hal ini seminggu lalu dan sekarang masih dalam pengobatan rutin. Terkadang saya bingung bentuk support yang tepat untuk dia, terutama saat dia merasa sangat depresi dan beberapa kali pernah cerita tentang keinginannya untuk bunuh diri. Saya sangat khawatir dgn keadaannya yg demikian. Mudah mudahan Mbak Naaj berkenan berbagi pengalaman dan ceritanya...

    Thanks yaa Mbak, semoga Mbaak Naaj selalu sehat dan bahagia bersama keluarga :)

    ReplyDelete